Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan inflasi pada April 2026 diperkirakan masih relatif terkendali, meski terdapat sejumlah faktor yang mulai mendorong kenaikan harga di beberapa sektor. Pergerakan harga input produksi hingga dinamika konsumsi masyarakat menjadi penentu arah inflasi pada periode ini.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memprediksi inflasi inti pada April 2026 masih akan berada dalam kisaran 2,6% hingga 3,0%, atau meningkat tipis dibandingkan posisi inflasi inti Maret yang tercatat sekitar 2,5%.
“Maret ada efek low base dari diskon listrik, tanpa efek diskon listrik inflasi Maret sekitar 2,5%. Kami memperkirakan saat ini inflasi di April masih berkisar 2,6%–3,0%,” ungkap David kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: INDEF: Inflasi April Berpotensi Meningkat ke Kisaran 3,8%
Menurut David, tekanan inflasi pada April utamanya bukan berasal dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi dan LPG 12 Kg, melainkan dari kenaikan harga plastik yang menjadi salah satu input penting dalam kegiatan produksi.
“Yang dapat berpengaruh besar terhadap inflasi adalah harga plastik karena digunakan sebagai input produksi di beberapa sektor dan digunakan bagi pelaku usaha, baik dari UMKM hingga industri,” jelasnya.
Di sisi lain, ia melihat harga bahan pokok masih relatif stabil hingga pertengahan April sehingga belum memberikan tekanan berarti terhadap inflasi.
Kenaikan harga emas juga dinilai tidak berdampak signifikan terhadap inflasi April karena penurunannya baru terjadi pada pertengahan hingga akhir Maret.
Sementara itu, kenaikan harga BBM non subsidi seperti RON 98 dan diesel dinilai tidak terlalu memengaruhi inflasi karena porsinya dalam konsumsi masyarakat relatif kecil.
Hal serupa juga menurutnya berlaku pada LPG non subsidi, di mana kenaikannya hanya memberikan tambahan tekanan inflasi yang terbatas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













