Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 tercatat mengalami deflasi secara bulanan. Namun, di balik itu, tekanan harga justru menguat jika dilihat secara tahunan. Kondisi ini menjadi sinyal kewaspadaan, terutama hingga akhir kuartal I-2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi Januari 2026 sebesar 0,15% secara bulanan. Sebaliknya, inflasi tahunan melonjak ke level 3,55%, naik signifikan dibandingkan posisi akhir 2025 yang masih 2,92%.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, inflasi tahunan terutama didorong kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Kelompok ini mencatat inflasi 11,93% dengan andil mencapai 1,72% terhadap inflasi tahunan.
Baca Juga: BPS: Inflasi Tahunan Januari 2026 Naik Jadi 3,55%
Selain faktor struktural tersebut, kenaikan inflasi awal tahun juga dipengaruhi efek basis rendah (low base effect). Pada Januari–Februari 2025, pemerintah sempat menerapkan diskon tarif listrik yang menekan IHK dan memicu deflasi. Akibatnya, level harga pada periode tersebut berada di bawah tren normal.
“Ketika inflasi dihitung secara tahunan pada Januari 2026, basis pembandingnya relatif rendah sehingga inflasi tampak lebih tinggi, meski pergerakan harga masih sejalan dengan fundamental,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/2/2026).
Tekanan inflasi diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memproyeksikan inflasi tahunan akan bertahan di atas 3% sepanjang kuartal I-2026.
Menurut Faisal, dorongan inflasi berasal dari cuaca ekstrem yang memengaruhi harga pangan, meningkatnya permintaan musiman selama Ramadhan dan Idulfitri, serta kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian global. Efek basis rendah dari diskon tarif listrik tahun lalu juga masih membayangi.
Baca Juga: BPS: 19 Provinsi Alami Deflasi dan 20 Provinsi Alami Inflasi Pada Januari 2026
Meski demikian, prospek jangka menengah dinilai lebih terkendali. Faisal memperkirakan inflasi tahunan berpotensi kembali turun ke bawah 3% pada akhir 2026, atau masuk dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%–3,5%.
Ia memproyeksikan inflasi umum berada di sekitar 2,72% pada penghujung tahun.
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang. Ia menilai tekanan inflasi akan terus meningkat hingga Maret 2026, seiring lonjakan permintaan pangan menjelang Idulfitri dan masih kuatnya efek diskon listrik pada awal 2025.
“Secara tahunan, inflasi berpotensi berada di kisaran 3,5% hingga 4% akibat low base effect dari diskon listrik tahun lalu,” kata Hosianna.
Baca Juga: Ekonom Proyeksi IHK Januari 2026 Deflasi 0,11%, Namun Inflasi Tahunan Capai 3,59%
Dengan berbagai tekanan tersebut, dinamika inflasi awal 2026 menunjukkan bahwa deflasi bulanan belum tentu mencerminkan meredanya tekanan harga. Fokus pasar dan pembuat kebijakan kini tertuju pada kemampuan inflasi kembali terkendali setelah momentum musiman berlalu.
Selanjutnya: BMKG: Potensi Cuaca Ekstrem Berlanjut, Hujan Sangat Lebat di Provinsi Ini
Menarik Dibaca: BMKG: Potensi Cuaca Ekstrem Berlanjut, Hujan Sangat Lebat di Provinsi Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













