kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.027.000   167.000   5,84%
  • USD/IDR 16.826   31,00   0,18%
  • IDX 7.887   -442,44   -5,31%
  • KOMPAS100 1.101   -63,78   -5,47%
  • LQ45 800   -33,16   -3,98%
  • ISSI 278   -20,20   -6,79%
  • IDX30 418   -11,50   -2,68%
  • IDXHIDIV20 502   -7,68   -1,51%
  • IDX80 123   -6,46   -5,00%
  • IDXV30 135   -3,96   -2,85%
  • IDXQ30 136   -2,34   -1,69%

Ekonom Proyeksi IHK Januari 2026 Deflasi 0,11%, Namun Inflasi Tahunan Capai 3,59%


Senin, 02 Februari 2026 / 11:05 WIB
Ekonom Proyeksi IHK Januari 2026 Deflasi 0,11%, Namun Inflasi Tahunan Capai 3,59%
ILUSTRASI. Inflasi tahun diproyeksikan 3,59% per Januari 2026 atau lampaui target BI


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan ekanan inflasi pada Januari 2026 diperkirakan melandai bahkan deflasi ringan secara bulanan (month to month/mtm) seiring meredanya dorongan musiman Natal dan Tahun Baru (Nataru). Namun inflasi tahunan (year on year/yoy) justru melonjak.

Josua memperkirakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) diprediksi mengalami deflasi di kisaran 0,11% mtm. Pelemahan ini terutama didorong oleh normalisasi harga pangan dan transportasi setelah lonjakan permintaan pada akhir tahun.

“Setelah dorongan musiman Nataru mereda, tekanan harga bulanan justru melandai. Harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai, bawang merah, daging ayam, dan telur mulai melemah, diikuti penurunan tarif angkutan udara serta harga BBM nonsubsidi,” ujar Josua kepada Kontan, Minggu (1/2/2026).

Baca Juga: Inflasi Kuartal I-2026 Berisiko Naik Dipicu Lonjakan Harga Pangan dan Efek MBG

Meski secara bulanan inflasi cenderung turun, Josua menilai inflasi secara tahunan justru berpotensi meningkat. Inflasi Januari 2026 diperkirakan naik ke sekitar 3,59% yoy dari 2,92% yoy pada Desember 2025, bahkan sedikit melampaui kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%–3,5%.

Namun, kenaikan inflasi tahunan tersebut bukan disebabkan oleh lonjakan permintaan domestik. Menurut Josua, faktor utama berasal dari efek pembanding (base effect) yang rendah pada Januari tahun lalu.

“Pada Januari 2025 terdapat diskon tarif listrik 50%, sehingga basis inflasi tahun lalu sangat rendah. Ini membuat inflasi tahunan tahun ini terlihat naik, meski tekanan permintaan sebenarnya tidak menguat,” jelasnya.

Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan sedikit menurun ke sekitar 2,34% yoy, mencerminkan daya beli masyarakat yang masih terbatas. Kendati demikian, penurunan inflasi bulanan berpotensi tertahan oleh sejumlah faktor risiko.

Josua menyebut pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai, serta potensi kenaikan harga minyak goreng akibat gangguan pasokan dan logistik di wilayah Sumatra masih perlu diwaspadai.

“Faktor-faktor tersebut bisa menahan laju deflasi bulanan dan menjaga tekanan inflasi tetap ada, meski secara umum trennya masih terkendali,” pungkas Josua.

Selanjutnya: MHU Pertahankan Zero Kecelakaan Kerja

Menarik Dibaca: Layar Huawei MatePad 11.5: Fitur Tersembunyi Ini Bikin Kagum

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×