kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.658   1,00   0,01%
  • IDX 6.686   66,77   1,01%
  • KOMPAS100 877   10,98   1,27%
  • LQ45 666   9,17   1,40%
  • ISSI 233   2,34   1,01%
  • IDX30 372   4,41   1,20%
  • IDXHIDIV20 459   4,13   0,91%
  • IDX80 100   1,30   1,32%
  • IDXV30 127   1,31   1,04%
  • IDXQ30 119   1,06   0,90%

Inflasi Agustus Capai 3,19%, Mendagri Minta Pemda Waspadai Harga Pangan


Selasa, 08 September 2026 / 18:14 WIB
Inflasi Agustus Capai 3,19%, Mendagri Minta Pemda Waspadai Harga Pangan
ILUSTRASI. Harga Pangan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah daerah (pemda) diminta mewaspadai tekanan harga pangan yang berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. 

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19% secara tahunan. 

Secara bulanan, inflasi Agustus 2026 tercatat 0,21% dibandingkan Juli 2026. Tekanan tersebut terutama berasal dari kelompok makanan dan minuman, dengan daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, dan beras menjadi sejumlah komoditas penyumbang utama.

Baca Juga: Purbaya Sebut Empat Bank BUMN Telah Siap Pungut Pajak Digital Global

Tito meminta pemda tidak menunggu kenaikan harga semakin tinggi sebelum melakukan intervensi, terutama di wilayah yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tekanan harga.

"Yang perlu kita waspadai, dan perlu kita intervensi, agar harga, terutama makanan-minuman di wilayah yang spesifik ada datanya di BPS, agar di daerah-daerah tersebut kita berikan atensi, dukungan, termasuk misalnya beras SPHP, pasar murah, dan lain-lain. Kemudian, kita juga perlu waspadai potensi produksi yang bisa menurun, karena adanya kemarau panjang, karhutla, dan lain-lain," kata Tito dalam keterangan resminya, Selasa (8/9/2026).

Selain harga, pemerintah juga perlu mengantisipasi potensi gangguan produksi akibat kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Kondisi tersebut berisiko mengganggu pasokan dan menambah tekanan terhadap harga pangan di sejumlah daerah.

Maluku Utara menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi, yakni 5,28%. Di tingkat kabupaten, Kabupaten Kapuas mencatat inflasi 6,2%, sedangkan Kota Ternate menjadi kota dengan inflasi tertinggi sebesar 5,75%.

Sebaliknya, Kalimantan Utara mencatat inflasi 2,17%, Kabupaten Morowali 1,22%, dan Kota Palopo 1,73%. Tito mengapresiasi daerah yang mampu menjaga stabilitas harga tersebut.

Menurut Tito, pengendalian inflasi perlu menjaga keseimbangan agar harga tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Kenaikan harga dapat menekan daya beli masyarakat, sementara harga yang jatuh terlalu dalam dapat menyulitkan produsen menutup biaya operasional.

"Nah itu yang kami harus jaga stabilitasnya, harga pangan, barang dan jasa, pangan yang paling utama, yang menyangkut masalah perut rakyat, daya beli masyarakat," ungkapnya.

Baca Juga: DJP Perluas Pemajakan Transaksi Digital Luar Negeri Mulai 10 September 2026

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir, meminta pemda memberi perhatian pada tiga komoditas utama, yakni beras, ayam ras, dan cabai.

Khusus beras, pemda diminta tidak terlambat melakukan intervensi. Keterlambatan penanganan dinilai dapat membuat harga melonjak lebih tinggi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali terkendali.

Untuk ayam ras, pemerintah perlu mencari formula untuk menahan fluktuasi harga agar tidak terlalu tajam sehingga tidak merugikan produsen maupun konsumen. 

Adapun pada komoditas cabai, intervensi melalui penambahan jumlah kebun dan program subsidi diharapkan dapat memperkuat pasokan serta menjaga stabilitas harga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×