kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   0,00   0,00%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Industri Tembakau Serap 6 Juta Pekerja, Serikat Buruh khawatirkan Aturan Kemasan


Kamis, 25 Juni 2026 / 19:18 WIB
Industri Tembakau Serap 6 Juta Pekerja, Serikat Buruh khawatirkan Aturan Kemasan
ILUSTRASI. Kawasan Desa Sembalun, Nusa Tenggara Barat (KONTAN/Muradi)


Reporter: kompas.com | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Rencana pemerintah menerapkan penyeragaman kemasan rokok (plain packaging) melalui Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) tentang Peringatan Kesehatan dan Informasi pada Produk Tembakau serta Rokok Elektronik mendapat penolakan dari kalangan pekerja industri hasil tembakau (IHT).

Serikat pekerja menilai kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada produsen rokok, tetapi juga berpotensi memengaruhi jutaan tenaga kerja yang terlibat dalam rantai pasok industri tembakau, mulai dari petani, buruh pabrik, hingga sektor distribusi dan perdagangan.

Ketua PD FSP RTMM-SPSI DIY Waljid Budi Lestarianto mengatakan, industri hasil tembakau merupakan ekosistem yang menopang banyak aktivitas ekonomi.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sektor ini menyerap sekitar 6 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir, mencakup budidaya tembakau dan cengkeh, manufaktur, distribusi, hingga perdagangan.

Baca Juga: HSE Jadi Fondasi, Tracon Industri Pacu Kinerja Berkelanjutan

Menurut dia, setiap kebijakan yang berpotensi menekan industri legal perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap keberlangsungan lapangan kerja, terutama bagi pekerja di sektor Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang masih mengandalkan tenaga manusia dalam proses produksi.

"Kalau semua kemasan dibuat seragam, produk ilegal justru semakin mudah masuk pasar. Ini bukan solusi, melainkan masalah baru," tegas Waljid dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6).

Selain persoalan ketenagakerjaan, serikat pekerja juga menyoroti risiko meningkatnya peredaran rokok ilegal. Mereka menilai kemasan selama ini menjadi salah satu identitas yang memudahkan konsumen membedakan produk legal dengan produk ilegal maupun palsu.

Waljid berpendapat, penyeragaman kemasan berpotensi menyulitkan identifikasi produk resmi di pasar. Kekhawatiran tersebut muncul di tengah masih maraknya peredaran rokok ilegal. Hingga akhir September 2025, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilaporkan telah menyita sekitar 8,16 juta batang rokok ilegal dari berbagai operasi penindakan.

Menurutnya, jika peredaran rokok ilegal meningkat, industri legal akan menghadapi tekanan lebih besar karena harus menanggung beban cukai dan kewajiban regulasi lainnya yang tidak dikenakan kepada pelaku usaha ilegal.

Baca Juga: Industri Rokok Tolak Wacana Kemasan Seragam, Khawatir Picu Rokok Ilegal dan PHK

Serikat pekerja juga mengingatkan bahwa industri hasil tembakau merupakan salah satu kontributor penting penerimaan negara. Pada 2025, penerimaan cukai hasil tembakau tercatat melampaui Rp 230 triliun, meningkat dibandingkan sekitar Rp 216 triliun pada 2024.

Waljid menilai kebijakan yang berdampak pada kinerja industri legal perlu dikaji secara menyeluruh karena berpotensi memengaruhi penerimaan negara, investasi, dan penyerapan tenaga kerja.

Meski memahami tujuan pemerintah untuk menekan prevalensi perokok pemula dan memperkuat kampanye kesehatan masyarakat, serikat pekerja meminta penyusunan regulasi dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pekerja, petani, pelaku industri, akademisi, dan pemerintah daerah.

Mereka juga mendorong pemerintah mengedepankan langkah lain seperti edukasi bahaya merokok, pengawasan penjualan kepada anak di bawah umur, serta pemberantasan rokok ilegal.

Karena itu, serikat pekerja menyatakan menolak rencana penerapan kemasan polos rokok yang saat ini tengah dibahas dalam RPMK Kementerian Kesehatan.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/06/24/212306526/industri-tembakau-serap-6-juta-pekerja-serikat-buruh-soroti-aturan-kemasan?page=all#page2.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×