kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

Investor Asing Masih Masuk Indonesia, Ini Keunggulan Vietnam yang Sulit Disaingi


Selasa, 22 September 2026 / 05:35 WIB
Investor Asing Masih Masuk Indonesia, Ini Keunggulan Vietnam yang Sulit Disaingi
ILUSTRASI. Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor asing, terutama karena ditopang pasar domestik yang besar dan kekayaan sumber daya alam (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor asing, terutama karena ditopang pasar domestik yang besar dan kekayaan sumber daya alam. Namun, untuk investasi manufaktur yang berorientasi ekspor dan terintegrasi dengan rantai pasok global, Indonesia dinilai masih menghadapi persaingan ketat dari Vietnam.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, keunggulan Indonesia dalam menarik investasi memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Vietnam.

Indonesia memiliki kekuatan dari sisi ukuran pasar domestik, sumber daya alam, khususnya nikel, serta pengembangan hilirisasi. Sementara Vietnam dinilai lebih kompetitif sebagai basis manufaktur yang terhubung dengan rantai pasok global.

"Indonesia sebenarnya masih menarik, tetapi keunggulannya berbeda dengan Vietnam. Kita tetap kuat dari sisi ukuran pasar, sumber daya alam, terutama nikel dan hilirisasi, sementara Vietnam saat ini lebih kompetitif sebagai basis manufaktur yang berorientasi ekspor," ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Senin (21/9/2026).

Menurut Yusuf, arus investasi asing ke Indonesia juga masih menunjukkan pertumbuhan. Pada semester I-2026, realisasi penanaman modal asing (PMA) mencapai sekitar Rp 507,6 triliun.

Sementara itu, total investasi yang mencakup penanaman modal dalam negeri (PMDN) telah menembus sekitar Rp 1.010 triliun.

Baca Juga: Peta Investasi Global Bergeser ke AI dan Manufaktur, RI Masih Andalkan Komoditas

Dengan kondisi tersebut, persoalan utama Indonesia bukan lagi mengenai ada atau tidaknya investor asing yang masuk. Tantangan yang perlu diperhatikan adalah memastikan modal yang masuk diarahkan ke sektor yang mampu memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan ekspor, dan menciptakan lapangan kerja.

"Jadi persoalannya bukan apakah investor asing masih masuk, tetapi ke mana modal tersebut diarahkan dan seberapa besar dampaknya terhadap kapasitas produksi serta ekspor," katanya.

Vietnam Unggul di Manufaktur Ekspor

Yusuf menjelaskan, Vietnam memiliki keunggulan karena investasi asing di negara tersebut banyak mengalir ke sektor manufaktur dan pengolahan yang terhubung langsung dengan rantai pasok global.

Kondisi tersebut membuat perusahaan asing memiliki kontribusi yang besar terhadap aktivitas ekspor Vietnam. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang investasi asingnya masih relatif banyak mengarah ke sektor logam dasar, pertambangan, dan hilirisasi.

Meskipun nilai investasi pada sektor-sektor tersebut besar, dampaknya terhadap pembentukan basis manufaktur yang berorientasi ekspor dinilai belum sebesar Vietnam.

"Untuk pabrik yang membutuhkan kepastian proses, integrasi dengan rantai pasok global, dan orientasi ekspor, Vietnam saat ini menawarkan kondisi yang lebih kompetitif," katanya.

Di sisi lain, Indonesia tetap memiliki keunggulan yang sulit digantikan, terutama bagi investasi yang membutuhkan akses terhadap pasar domestik yang besar maupun bahan baku mineral.

Yusuf menilai investor pada dasarnya tidak meninggalkan Indonesia secara keseluruhan. Keputusan lokasi investasi lebih banyak ditentukan oleh karakteristik dan kebutuhan dari proyek yang akan dibangun.

Baca Juga: PNBP Berpeluang Lampaui Target, Harga Komoditas Jadi Penopang

"Untuk investasi yang membutuhkan pasar domestik besar atau akses terhadap bahan baku mineral, Indonesia tetap memiliki keunggulan yang sulit digantikan," imbuh Yusuf.

Biaya dan Kepastian Jadi Tantangan

Menurut Yusuf, persoalan yang perlu dibenahi Indonesia saat ini berkaitan dengan biaya dan kepastian dalam menjalankan investasi.

Sejumlah faktor seperti perizinan, logistik, energi, kepastian regulasi, hingga konsistensi pelaksanaan kebijakan di tingkat daerah menjadi pertimbangan penting bagi investor.

Bagi perusahaan manufaktur yang berorientasi ekspor, perbedaan biaya produksi dan kepastian waktu produksi dapat secara langsung memengaruhi daya saing produk di pasar global.

Karena itu, pemerintah dinilai tidak cukup hanya mengejar peningkatan angka PMA. Kualitas investasi juga perlu menjadi perhatian agar modal asing yang masuk dapat menghasilkan produk bernilai tambah, memperbesar ekspor, dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal.

"Ukuran pasar dan hilirisasi tetap menjadi modal penting, tetapi tanpa perbaikan pada biaya produksi, logistik, perizinan, dan kepastian hukum, sebagian proyek manufaktur akan lebih memilih lokasi yang menawarkan proses produksi yang lebih efisien dan lebih mudah diprediksi," katanya.

Daya Tarik Investasi Indonesia Belum Optimal

Senada, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman mengatakan, belum tepat apabila Indonesia disebut sudah tidak menarik bagi investor asing. Pasalnya, arus PMA ke Indonesia masih relatif kuat.

Namun, menurut Rizal, daya tarik Indonesia belum optimal jika dibandingkan dengan besarnya ukuran pasar dan potensi ekonomi nasional.

"Belum tepat mengatakan Indonesia tidak lagi menarik bagi investor asing karena arus PMA masih relatif kuat. Persoalannya adalah daya tarik Indonesia belum optimal dibandingkan besarnya pasar dan potensi ekonominya," kata Rizal.

Baca Juga: Penjualan SR025 Tembus Rp 29,77 T, Cetak Rekor Tertinggi Dalam 10 Tahun

Ia menilai tantangan Indonesia bukan sekadar meningkatkan jumlah modal asing yang masuk. Indonesia juga perlu memenangkan investasi berkualitas yang membawa teknologi, meningkatkan produktivitas, memperbesar ekspor, serta menciptakan pekerjaan bernilai tambah tinggi.

Rizal mengatakan keunggulan Vietnam tidak semata-mata tercermin dari rasio FDI terhadap PDB yang lebih tinggi. Faktor yang lebih penting adalah bagaimana investasi asing di Vietnam terintegrasi dengan sektor manufaktur dan rantai pasok global.

Sementara itu, investasi asing di Indonesia masih relatif terkonsentrasi pada sektor berbasis sumber daya alam dan hilirisasi komoditas.

"Pekerjaan besarnya adalah mengubah keunggulan pasar dan SDA menjadi keunggulan industri melalui kepastian regulasi, produktivitas tenaga kerja, logistik kompetitif, serta ekosistem pemasok domestik yang kuat," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×