Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Persaingan menarik investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) di ASEAN semakin ketat.
Indonesia menghadapi tantangan karena minat investor global mulai bergeser dari sektor berbasis komoditas dan pasar domestik menuju teknologi, pusat data, kecerdasan buatan (AI), serta manufaktur.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, perubahan fokus investasi tersebut membuat negara dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) lebih kompetitif.
Thailand, Malaysia dan Singapura menjadi sejumlah negara yang diuntungkan dari tren tersebut, sementara Vietnam mendapat keuntungan dari kedekatan geografis dengan China dan perannya dalam rantai pasok regional.
Baca Juga: RI Kalah Saing di ASEAN dalam Menarik Investasi Asing, Ekonom Beberkan Biang Keroknya
"FDI pada sektor teknologi, khususnya data center dan AI, tengah bertumbuh pesat sehingga menguntungkan negara dengan SDM dan infrastruktur yang dapat menampung kebutuhan tersebut," ujar David kepada Kontan, Senin (21/9/2026).
Data FDI semester I-2026 menunjukkan Singapura mencatat investasi asing sekitar US$ 86,2 miliar. Thailand mencapai US$ 40,5 miliar atau tumbuh 80% secara tahunan, Vietnam US$ 34,65 miliar atau naik 60%, dan Malaysia US$ 30,2 miliar atau tumbuh 18,5%.
Sementara itu, FDI Indonesia tercatat US$ 28,45 miliar atau sekitar Rp 507,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.836 per dolar AS. Filipina mencatat US$ 3,38 miliar, turun 17,83% secara tahunan.
Indonesia masih memiliki daya tarik dari besarnya pasar domestik, pertambangan dan CPO. Namun, sektor-sektor tersebut dinilai bukan lagi menjadi fokus utama investor global.
Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman menilai persoalan Indonesia bukan hanya soal besarnya investasi yang masuk, tetapi juga daya saing dan efisiensi investasi.
Baca Juga: Prabowo Terima Dubes AS untuk ASEAN, Bahas Soal Kemitraan Strategis
Proses perizinan yang relatif panjang, perubahan regulasi, inkonsistensi kebijakan serta kesenjangan implementasi antara pemerintah pusat dan daerah masih menjadi hambatan bagi investor.
Selain itu, ICOR Indonesia disebut mendekati 6, lebih tinggi dibandingkan negara pesaing di ASEAN yang rata-rata berada di bawah 4. Kondisi tersebut mencerminkan kebutuhan modal yang relatif lebih besar untuk menghasilkan tambahan output.
Struktur investasi juga menjadi perhatian. Investasi padat modal, khususnya di sektor pertambangan, belum selalu menghasilkan multiplier effect yang besar bagi ekonomi domestik karena masih bergantung pada tenaga ahli dari negara asal investor serta rantai pasok yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan industri lokal.
Menurut Juniman, Indonesia juga perlu memastikan investasi yang masuk benar-benar terealisasi dalam bentuk pabrik atau kegiatan usaha yang beroperasi, bukan hanya tercatat sebagai angka realisasi investasi.
Di sisi lain, kesiapan SDM menjadi faktor penting untuk menarik investasi bernilai tambah lebih tinggi.
Baca Juga: Proyeksi Bank Dunia: Kemiskinan Indonesia Capai 64,2% di 2026,Posisi ke-4 ASEAN&Peers
Tanpa tenaga kerja lokal yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri, posisi strategis dalam proyek investasi asing berpotensi tetap diisi tenaga kerja dari negara asal investor.
Dari sisi ekosistem, Indonesia juga dinilai perlu membangun kawasan industri yang lebih terintegrasi, mulai dari infrastruktur, tenaga kerja, industri pendukung hingga rantai pasok.
Model seperti ini dinilai penting untuk sektor yang tengah berkembang, termasuk data center dan AI.
Bagi investor, kondisi tersebut membuat kepastian regulasi, efisiensi biaya, kualitas SDM dan kesiapan ekosistem industri menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi investasi jangka panjang.
Karena itu, peningkatan daya saing FDI Indonesia tidak cukup hanya melalui insentif dan pemangkasan perizinan.
Baca Juga: Prabowo: Indonesia dan Thailand Berpotensi Jadi Penggerak Ekonomi ASEAN
Pemerintah perlu memastikan kebijakan berjalan konsisten hingga daerah, sekaligus meningkatkan kualitas SDM dan membangun ekosistem industri yang mampu menangkap pergeseran investasi global ke sektor teknologi dan manufaktur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












