kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Indef Ingatkan Tugas Berat Menkeu di Era Prabowo-Gibran: Jaga Kesinambungan Fiskal!


Rabu, 27 Maret 2024 / 07:03 WIB
Indef Ingatkan Tugas Berat Menkeu di Era Prabowo-Gibran: Jaga Kesinambungan Fiskal!
ILUSTRASI. Indef mengungkapkan sejumlah tugas berat dari menteri keuangan di era pemerintahan Prabowo-Gibran


Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menilai tugas menteri keuangan di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran harus dapat menjaga kesinambungan fiskal.

Kata dia, menjaga kesinambungan fiskal adalah prinsip yang sangat penting dalam menghindari ketidakstabilan ekonomi dan keuangan. 

Kebijakan fiskal yang tidak berkesinambungan akan memberikan dampak buruk bagi pembangunan, pertumbuhan ekonomi, distribusi, pengentasan kemiskinan, hingga stabilitas ekonomi. 

"Siapapun menteri keuangan harus bisa menjaga kesinambungan fiskal,” kata Eko saat diskusi publik Indef “Dinamika Lebaran dan Arah Ekonomi Prabowo-Gibran” secara daring, Selasa (26/3).

Baca Juga: Indef Ungkap Sektor Pangan Jadi Ujung Tombak Pertumbuhan Ekonomi RI

Eko juga menegaskan bahwa tugas Menteri keuangan di kabinet Prabowo-Gibran lebih berat dari sebelumnya.

Selain karena menanggung beban utang di era presiden Jokowi, program populis mereka salah satunya makan siang gratis dikhawatirkan akan memberikan konsekuensi langsung pada pengelolaan APBN.

"Era Jokowi kan infrastruktur digenjot habis-habisan, banyak yang berasal dari utang. Ini bisa sama tingginya, contohnya era Prabowo terasosiasi ke aspek sosial, tanpa ada penambahan pendapatan ya utang," jelasnya.

Karenanya, jika menteri keuangannya tidak sekaliber Sri Mulyani maka Indonesia bersiap untuk lonjakan utang negara.

"Jadi kalau menteri keuangan tidak tegas, iya-iya saja (ke presiden) karena program sudah dijanjikan dan kemudian tidak melihat realitas kemampuan APBN. Maka siap-siap saja akan dikoreksi oleh pasar,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×