kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.090   -21,00   -0,12%
  • IDX 6.216   29,92   0,48%
  • KOMPAS100 816   4,51   0,56%
  • LQ45 621   1,96   0,32%
  • ISSI 215   0,78   0,36%
  • IDX30 349   0,72   0,21%
  • IDXHIDIV20 431   0,93   0,22%
  • IDX80 93   0,44   0,47%
  • IDXV30 118   0,52   0,44%
  • IDXQ30 112   0,10   0,09%

Impor Masih Melaju, Neraca Perdagangan Juni 2026 Diperkirakan Defisit US$ 1 Miliar


Jumat, 31 Juli 2026 / 11:19 WIB
Impor Masih Melaju, Neraca Perdagangan Juni 2026 Diperkirakan Defisit US$ 1 Miliar
ILUSTRASI. Ekonom memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia akan mencatat defisit US$ 1,00 miliar pada Juni 2026.(ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja neraca perdagangan diperkriakan kembali mencatatkan defsit pada Juni 2026.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia akan mencatat defisit US$ 1,00 miliar pada Juni 2026, menyempit dari defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026, didukung oleh permintaan eksternal yang tangguh dan harga minyak global yang lebih rendah.

Adapun neraca perdagangan mencatatkan defisit imbas kinerja impor lebih besar daripada ekspor. Ia memperkirakan kinerja ekspor Indonesia akan tumbuh sebesar 1,86% year on year (yoy) pada Juni 2026, setelah kontraksi 5,73% yoy pada Mei 2026.

Baca Juga: Pemerintah Disarankan Tak Hanya Kejar Pertumbuhan Ekonomi, Ini Catatan Ekonom

“Meskipun harga komoditas ekspor utama, termasuk batubara dan crude palm oil (CPO), telah normal, permintaan eksternal tetap relatif tangguh. PMI manufaktur di seluruh mitra dagang utama Indonesia pada Juni 2026 terus menunjukkan ekspansi, yang mengindikasikan permintaan eksternal yang sehat,” tutur Faisal dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).

Sementara itu, kinerja impor diperkirakan akan terus meningkat pada Juni 2026 di tengah permintaan domestik yang kuat.

Faisal memproyeksikan impor Indonesia akan tumbuh sebesar 28,66% yoy pada Juni 2026, meningkat dari 22,16% yoy pada Mei 2026. Meskipun harga minyak global yang lebih rendah, didukung oleh optimisme atas potensi kesepakatan damai AS-Iran, seharusnya mengurangi nilai impor minyak, impor secara keseluruhan diperkirakan akan tetap kuat, didukung oleh kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan dan permintaan domestik yang tangguh.

“Selain itu, data perdagangan Tiongkok menunjukkan bahwa ekspornya ke Indonesia meningkat secara signifikan pada Juni 2026, menunjukkan permintaan impor yang berkelanjutan dari Indonesia,” ungkapnya.

Baca Juga: Inflasi Juli 2026 Diprediksi Melandai, Ancaman El Nino dan Rupiah Membayangi

Faisal memperkirakan risiko penurunan neraca perdagangan Indonesia, terutama didorong oleh kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan, yang seharusnya menjaga permintaan domestik tetap tangguh dan mendukung pertumbuhan impor yang lebih kuat.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor diperkirakan akan kembali normal setelah pengiriman yang dilakukan lebih awal tahun lalu menjelang pemberlakuan tarif timbal balik, di samping melemahnya permintaan global, khususnya dari Tiongkok, dan ketidakpastian yang terus berlanjut seputar ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang, yang semuanya kemungkinan akan membebani kinerja ekspor Indonesia.

“Meskipun perdagangan semikonduktor dan chip terkait AI global terus berkembang, mendukung perdagangan global secara keseluruhan, integrasi Indonesia yang terbatas ke dalam rantai pasokan bernilai tinggi ini menunjukkan hanya sedikit manfaat langsung bagi ekspornya,” Jelasnya.

Baca Juga: Insentif Pajak Rumah Kurang Efektif, Serapan Paling Rendah pada 2025

Lebih lanjut, ia juga memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current aciunt deficit (CAD) Indonesia akan melebar pada tahun 2026, didorong oleh impor yang lebih tinggi di bawah agenda pro-pertumbuhan pemerintah dan ekspor yang lebih lemah di tengah permintaan global yang lebih lemah di tengah ketidakpastian geopolitik dan perang dagang yang sedang berlangsung.

Hitungannya, CAD akan melebar menjadi 1,0%–2,0% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dari 0,11% PDB pada 2025. Sejalan dengan itu, cadangan devisa diproyeksikan turun menjadi US$ 143 miliar hingga US$ 147 miliar pada akhir 2026, dari US$ 156,47 miliar pada akhir 2025.

“Dengan latar belakang ini, kami memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan terus mempertahankan kebijakan moneter saat ini, dengan fokus berkelanjutan pada pelestarian stabilitas makroekonomi dan eksternal,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×