Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju inflasi diperkirakan kembali melandai pada Juli 2026 seiring meredanya tekanan harga pangan dan normalisasi kenaikan harga yang diatur pemerintah.
Meski demikian, para ekonom mengingatkan risiko inflasi belum sepenuhnya hilang karena pelemahan rupiah, potensi El Nino, hingga meningkatnya permintaan pangan masih berpotensi mendorong kenaikan harga pada paruh kedua tahun ini.
Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN memperkirakan inflasi tahunan Juli 2026 akan bergerak mendekati level 3%, sementara inflasi bulanan juga diproyeksikan lebih rendah dibandingkan Juni 2026.
Baca Juga: Bapanas Andalkan Stok Beras 5,25 Juta Ton Hadapi El Nino hingga Awal 2027
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan inflasi Juli secara bulanan sebesar 0,03%, turun dari 0,44% pada Juni. Sementara secara tahunan, inflasi diproyeksikan mencapai 3,06%, lebih rendah dibandingkan 3,34% pada bulan sebelumnya.
"Perlambatan inflasi terutama didorong penurunan harga pangan bergejolak dan normalisasi harga yang diatur pemerintah setelah penyesuaian harga bensin nonsubsidi pada bulan sebelumnya," ujar Andry, Kamis (30/7/2026).
Menurut Andry, komponen harga pangan bergejolak (volatile food) diperkirakan mengalami deflasi 1,12% secara bulanan, berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni.
Penurunan tersebut ditopang turunnya harga cabai merah dan bawang bombai seiring memasuki puncak musim panen.
Sementara itu, inflasi komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) diperkirakan hanya sebesar 0,10%, jauh lebih rendah dibandingkan 1,41% pada Juni setelah tekanan akibat penyesuaian harga bensin nonsubsidi mulai mereda.
Baca Juga: Update BMKG: Peluang Intensitas El Nino 75% dengan Kategori Sangat Kuat, Ini Efeknya
Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan meningkat menjadi 0,29% dari 0,23% pada Juni. Kenaikan ini terutama dipicu faktor musiman awal tahun ajaran baru, terutama pembayaran biaya pendidikan yang diperkirakan menyumbang sekitar 0,06 poin persentase terhadap inflasi bulanan.
Pandangan serupa disampaikan Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman.
Ia memperkirakan inflasi tahunan Juli mencapai 3,08% dengan inflasi bulanan sebesar 0,05%, didorong penurunan harga sejumlah komoditas pangan selama musim panen.
Meski demikian, Faisal menilai tekanan inflasi masih perlu diwaspadai. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan meningkatkan permintaan pangan sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas pangan bergejolak.
Selain itu, potensi kemunculan El Nino berkekuatan tinggi juga dinilai dapat mengganggu produksi pertanian, sehingga memicu kenaikan harga pangan.
Dari faktor eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Pemerintah Siaga Hadapi El Nino, Jaga Pasokan Air dan Produksi Pangan
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko inflasi impor. Dengan asumsi harga energi bersubsidi tetap dipertahankan pemerintah, Faisal memperkirakan inflasi pada akhir 2026 berada di kisaran 3,13%.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual memperkirakan inflasi tahunan Juli mencapai 3,11% dengan inflasi bulanan sebesar 0,16%.
Menurutnya, perlambatan inflasi didorong turunnya harga sejumlah bahan pangan, terutama telur, bawang merah, dan cabai merah.
Namun, David juga memperkirakan tekanan inflasi masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
Baca Juga: AHY Buka Peluang Operasi Modifikasi Cuaca untuk Hadapi Ancaman El Nino dan Kemarau
Pelemahan rupiah, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta potensi El Nino diperkirakan menjadi faktor utama yang dapat kembali mengerek harga pangan dan menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
