kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45950,37   4,93   0.52%
  • EMAS1.107.000 -0,81%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Hilirisasi Indonesia Menghadapi Sejumlah Tantangan, Ini Saran Ekonom


Senin, 13 Februari 2023 / 18:12 WIB
Hilirisasi Indonesia Menghadapi Sejumlah Tantangan, Ini Saran Ekonom
ILUSTRASI. Program hilirisasi yang dilakukan Indonesia menghadirkan peluang sekaligus tantangan. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menyebut program hilirisasi yang dilakukan Indonesia menghadirkan peluang sekaligus tantangan.

Salah satu tantangan dalam melakukan hilirisasi Indonesia adalah industri hasil hilirisasi yang belum sepenuhnya kuat. Pasalnya, produk antara atau hilir Indonesia masih banyak didominasi oleh impor.

Oleh karena itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pemerintah perlu melakukan beberapa hal untuk mengatasi tantangan dalam hilirasi tersebut.

Pertama, pemerintah perlu menarik minat investor di sektor antara untuk masuk ke Indonesia, dengan cara penyediaan infrastruktur kawasan industri, regulasi perizinan yang mendukung, hingga ketersediaan sumber daya masyarakat (SDM).

Baca Juga: Pemerintah Gencar Melakukan Hilirisasi, BI Ungkap Tantangannya

Kedua, pemerintah perlu memfasilitasi perusahaan hilir untuk melakukan merger dan akuisisi vertikal sehingga segmen antara jauh lebih kuat. Ketiga, meningkatkan dukungan pembiayaan perbankan untuk industri antara dengan suku bunga yang kompetitif.

"Jika diperlukan terdapat aturan semacam rasio minimum penyaluran kredit ke sektor industri antara," ujar Bhima kepada Kontan.co.id, Senin (13/2).

Dan terakhir, Bhima bilang, pemerintah perlu meningkatkan non tarif barrier untuk mencegah impor produk olahan melalui sertifikasi dan beragam pembatasan lainnya. Hal ini bertujuan untuk memberi insentif bagi industri antara dalam negeri untuk berkembang.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Nailul Huda menyebut, roadmap atau peta jalan industri bisa menjadi langkah awal yang baik dalam menjawab tantangan di hilirisasi Indonesia. Kemudian, ada juga implementasi dari mulai pengurangan ekspor hingga komitmen investasi pembangunan smelter.

Baca Juga: Bahlil Ungkap Peran UU Cipta Kerja dalam Hilirisasi Indonesia

Hanya saja, ia melihat komitmen tersebut banyak yang belum berjalan. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan pengawalan sehingga implementasinya dapat dipastikan dapat terlaksana.

"Komitmen investasi ini yang menemui ganjalan. Makanya banyak yang belum jalan. Lebih lagi insentif-insentif sudah diobral tetapi belum kelihatan hasilnya kan," kata Huda kepada Kontan.co.id, Senin (13/2).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×