kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Timur Tengah Memanas, Lonjakan Harga Minyak Bisa Tambah Beban APBN hingga Rp 515 T


Minggu, 01 Maret 2026 / 14:41 WIB
Timur Tengah Memanas, Lonjakan Harga Minyak Bisa Tambah Beban APBN hingga Rp 515 T


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan terhadap Iran.

Konflik memanas tersebut bisa berimbas kepada harga minyak global kembali meningkat, yang akhirnya bisa membebani anggaran belanja negara. Hal ini lantaran Indonesia masih banyak mengimpor bakar minyak (BBM).

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara memproyeksikan, harga minyak mentah dapat menembus US$ 100 hingga US$ 120  per barrel imbas konflik di Timur Tengah tersebut.

Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman April 2026 ditutup menguat 2,45% menjadi US$ 72,48 per barel pada Jumat (28/2/2026).

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 juga naik 2,8% ke US$ 67,02 per barel.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Apindo: Waspadai Lonjakan Biaya Dagang dan Inflasi Barang Impor

“Selat Hormuz yang terganggu akan mempengaruhi 20% pasokan minyak dunia. Kondisi diperburuk oleh ditolaknya pengajuan asuransi oleh berbagai kapal logistik yang melewati areal konflik,” tutur Bhima kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).

Bahkan, Bhima menyebut, kondisi memanas tersebut diperkirakan menimbulkan kesulitan impor minyak bagi banyak negara.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia dinilai akan menghadapi konsekuensi besar terhadap harga bahan  BBM.

Apabila mengacu pada sensitivitas data APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel di atas asumsi APBN diperkirakan menambah belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun.

“Dengan demikian, apabila harga minyak mencapai US$ 100 hingga US$ 120 per barel, belanja negara berpotensi meningkat hingga Rp 515 triliun pada 2026,” hitungnya.

Bhima melihat, kenaikan beban tersebut tidak hanya berasal dari subsidi BBM, tetapi juga dari kompensasi kepada Pertamina serta subsidi listrik, sehingga menciptakan tekanan ganda langsung terhadap APBN.

Baca Juga: BGN Bantah Anggaran Program MBG Tak Kurangi Pagu Program Kesehatan dan Pendidikan

Selain itu, kekhawatiran terjadinya flight to quality alias peralihan ke aset yang lebih aman dinilai dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah.

Inflasi impor akibat kenaikan harga minyak juga diperkirakan menekan daya beli masyarakat dan berisiko menciptakan spiral penurunan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×