CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Harga porang merosot, untung petani menggelongsor


Kamis, 11 November 2021 / 16:15 WIB
Harga porang merosot, untung petani menggelongsor


Sumber: Kompas.com | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Sempat digadang-gadang menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi, harga porang kini anjlok. Para petani porang pun mengeluhkan penurunan harga jual tanaman itu. 

Giyono, petani porang asal Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, mengungkapkan, harga jual porang saat ini terjun bebas menjadi Rp 6.000 per kilogram. 

Padahal, menurut Giyono, tahun lalu, harga tanaman dengan nama Latin Amorphophallus muelleri itu masih berada di kisaran Rp 12.000-Rp 13.000 per kilogram. 

Giyono menduga, penurunan harga porang akibat stok yang berlimpah. Tambah lagi, selama pandemi, aktivitas ekspor produk porang ikut tersendat.

Pasar internasional, dia menyebutkan, banyak yang menutup diri. Dugaan lain, oknum yang sengaja mempermainkan harga. 

Hanya, "Dengan harga Rp 6.000, petani masih bisa mendapat untung meskipun tidak banyak. Asalkan manajerial, standardisasi pengolahan, serta perawatannya bagus," katanya kepada Kompas.com.

Baca Juga: Porang tengah naik daun, Jokowi: Porang akan jadi makanan masa depan

Muhammad Zunaidi, pengepul porang asal Songgon, Banyuwangi, membenarkan, tahun ini harga porang merosot hingga di angka Rp 5.000. 

"Padahal, tahun 2020, per kilogram bisa mencapai Rp 13.000. Awal tahun 2021, di angka Rp 8.000. Akhir bulan Juli, harganya semakin merosot di angka Rp 5.000," ujarnya. 

"Tidak hanya harga umbi, harga katak atau bibit juga turun. Penurunan bisa jadi akibat pandemi," imbuh dia kepada Kompas.com.

Harga jual porang yang anjlok terbilang mengejutkan. Soalnya, tanaman ini sempat digadang-gadang Presiden Joko Widodo menjadi komoditas ekspor unggulan. 

Melalui unggahan akun Instagram resmi, 19 Agustus 2021, Presiden Jokowi mengatakan, porang bisa menjadi komoditas ekspor unggulan jika digarap dengan serius. 

"Bayangkan, satu hektare lahan dapat menghasilkan 15-20 ton porang. Pada musim tanam pertama para petani dapat menghasilkan hingga Rp 40 juta dalam 8 bulan. Nilainya sangat besar, pasarnya masih terbuka lebar," kata Presiden.

Baca Juga: Jokowi tinjau pabrik porang, tumbuhan liar yang buat petani jadi miliarder

Sebelum dilirik sebagai komoditas unggulan, porang awalnya hanya dianggap tidak lebih dari tumbuhan liar yang lazim ditemukan di sela-sela pepohonan hutan. 

Bahkan, tanaman yang juga sering tumbuh liar di pekarangan rumah itu juga dianggap masyarakat sebagai makanan ular. Lantas, sejak kapan porang mulai dilirik sebagai komoditas unggulan?

Porang mulai dilirik sebagai komoditas unggulan setelah kisah seorang pemulung yang sukses membudidayakan tanaman tersebut viral dan menjadi perbincangan masyarakat

Kesuksesan Paidi, sosok pemulung yang tinggal di Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, membudidayakan porang hingga beromset miliaran menarik perhatian banyak orang. 

Mengutip Kompas.com, 18 Juni 2019, awal mula, Paidi mengenal porang saat bertemu dengan teman satu panti asuhan di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, pada 2009. 

Di rumah temannya, Paidi dikenalkan tanaman porang yang dibudidayakan warga setempat. "Setelah saya cek, ternyata porang menjadi bahan makanan dan kosmetik yang dibutuhkan perusahaan besar di dunia," ungkap Paidi. 

Baca Juga: Tanam porang, petani di desa ini bisa raup untung hingga ratusan juta sekali panen

Setelah belajar dari temannya, Paidi kemudian mencari berbagai informasi tentang porang di internet. Ia akhirnya sadar, porang merupakan kebutuhan dunia. 

Umbi dari porang banyak dicari di pasaran luar negeri, seperti Jepang, China, Taiwan, dan Kore,a untuk bahan baku kosmetik, obat, hingga bahan baku ramen. 

Paidi mengatakan, omzet dari budidaya porang miliknya sudah mencapai miliaran rupiah. 

Sementara Kepala Desa Kepel Sungkono menyatakan, banyak warganya ikut menanam porang karena terinspirasi dengan kisah sukses Paidi. Hampir 85 persen warga di Desa Kepel menanam porang. 

Warga tertarik menanam porang karena harganya yang terus naik dan penanamannya yang lebih mudah. 

“Tahun lalu (2018) penjualan porang di desa kami tembus hingga Rp 4 miliaran. Warga yang memiliki lahan seluas satu hektare bisa meraih untung hingga Rp 110 juta,” sebut Sungkono.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kilas Balik Tanaman Porang, Komoditas Ekspor Unggulan yang Kini Harganya Terjun Bebas"

Penulis: Jawahir Gustav Rizal
Editor: Sari Hardiyanto

Selanjutnya: Mengenal porang, tanaman liar yang bikin banyak petani jadi miliarder

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×