kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.780   15,00   0,08%
  • IDX 6.576   -24,03   -0,36%
  • KOMPAS100 855   -8,28   -0,96%
  • LQ45 649   -5,44   -0,83%
  • ISSI 229   -0,94   -0,41%
  • IDX30 364   -2,82   -0,77%
  • IDXHIDIV20 449   -2,54   -0,56%
  • IDX80 98   -0,88   -0,90%
  • IDXV30 124   -1,33   -1,06%
  • IDXQ30 116   -0,70   -0,60%

Harga Beras Naik dan Jadi Penyumbang Inflasi, Mentan: Bukan Karena Stok


Rabu, 02 September 2026 / 13:43 WIB
Harga Beras Naik dan Jadi Penyumbang Inflasi, Mentan: Bukan Karena Stok
ILUSTRASI. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman buka suara soal beras yang kembali menjadi salah satu penyumbang inflasi. ? (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - SUBANG. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman buka suara soal beras yang kembali menjadi salah satu penyumbang inflasi. Amran menilai kenaikan harga beras tersebut bukan disebabkan oleh persoalan stok.

Menurut Amran, saat ini stok beras pemerintah masih berada di level tinggi. Berdasarkan data yang disampaikannya, stok beras pemerintah mencapai sekitar 5,1 juta ton.

“Kemarin salah satu kami cek ya karena stok banyak, berarti bukan karena stok, kan beras banyak,” kata Amran saat meninjau lahan pertanian di Subang, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga: Ditjen Pajak Naikkan Target Setoran Pajak Orang Kaya dan Perusahaan Besar pada 2026

Amran mengatakan pemerintah masih melakukan penelusuran mengenai penyebab kenaikan harga beras yang berkontribusi terhadap inflasi. Namun, ia menyinggung temuan Kementerian Pertanian terkait beras fortifikasi yang diduga tidak sesuai dengan ketentuan.

Menurut Amran, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Kementan, sekitar 90% sampel beras fortifikasi yang mereka periksa diduga bermasalah. Ia menyebut beras yang seharusnya mengandung vitamin dan mineral tersebut ternyata tidak memenuhi kandungan fortifikasi yang dipersyaratkan.

“Sesuai hasil laboratorium 90% yang kita cek fortifikasi melanggar,” ujar Amran.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi merugikan masyarakat karena beras fortifikasi dijual dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan harga beras biasa. Amran menyebut ada beras fortifikasi yang dijual hingga Rp40.000 per kilogram.

Menurutnya, apabila beras yang seharusnya dijual sekitar Rp13.500 per kilogram kemudian dijual dengan harga jauh lebih tinggi, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga dan berkontribusi terhadap inflasi.

Baca Juga: Restitusi Pajak Pengusaha Tersendat, Menperin Temui Purbaya Minta Solusi

“Harusnya harganya Rp 13.500, dia jual Rp 40.000. Menurut Anda menambah inflasi enggak? Penyumbang enggak?” kata Amran.

Amran bahkan menyebut terdapat selisih harga hingga sekitar Rp20.000-Rp22.000 per kilogram pada sejumlah beras fortifikasi yang diperiksa. Menurut dia, selisih tersebut bukan lagi sekadar persoalan margin keuntungan apabila produk yang dijual tidak sesuai dengan klaim fortifikasinya.

“Kasihan, jadi ini penipuan,” ujarnya.

Meski demikian, Amran belum membeberkan secara rinci jumlah beras fortifikasi bermasalah yang beredar di pasar. Ia mengatakan pemerintah masih melakukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut terkait persoalan tersebut.

Di sisi lain, Amran menegaskan kondisi perberasan nasional masih ditopang oleh stok yang tinggi. Ia menyebut stok beras pemerintah diperkirakan tetap berada di level 3 juta ton-4 juta ton hingga akhir tahun.

Amran juga menyoroti tingkat kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP). Ia mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), NTP saat ini mencapai 129 dan menjadi level tertinggi dalam sejarah.

“Jangan lupa tulis juga tertinggi kesejahteraan petani sepanjang sejarah NTP-nya,” kata Amran. 

Baca Juga: Prabowo Tiba di Vladivostok, Hadiri Eastern Economic Forum 2026

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan komoditas beras menyumbang inflasi pada Agustus 2026. Tercatat, beras mengalami inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,42% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,02%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut rata-rata harga beras di tingkat penggilingan, grosir, dan juga di tingkat eceran naik secara bulanan. 

Rata-rata harga beras di penggilingan pada Agustus 2026 mencapai Rp 14.213. Rata-rata harga beras di penggilingan pada Agustu 2026 secara total naik 1,32% secara bulanan dan 5,52% secara tahunan. 

Jika dilihat dari kualitas beras di penggilingan, maka untuk beras premium naik 1,22% secara bulanan dan secara tahunan naik 10,07%. Sedangkan untuk beras medium secara bulanan naik 1,48%, secara tahunan naik 4,03%.

Baca Juga: Aturan Purbaya! Konsultan Pajak yang Beri Imbalan ke Petugas Bisa Dicabut Izinnya

"Jadi secara tahunan untuk beras premium kenaikannya lebih tinggi dibandingkan dengan beras medium," tambah Ateng. 

Selanjutnya inflasi beras tingkat grosir terjadi inflasi sebesar 0,80% secara bulanan dan terjadi inflasi sebesar 4,28% secara tahunan. Sementara, inflasi beras di tingkat eceran, secara bulanan sebesar 0,42% dan secara tahunan sebesar 2,77%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×