kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Haji Mandiri Tanpa KBIHU, Jemaah Asal Sumenep Tetap Mantap Beribadah di Tanah Suci


Sabtu, 16 Mei 2026 / 20:51 WIB
Haji Mandiri Tanpa KBIHU, Jemaah Asal Sumenep Tetap Mantap Beribadah di Tanah Suci
ILUSTRASI. Moh Kamil, jemaah haji mandiri (KONTAN/Siti Masitoh)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – MADINAH. Di tengah ribuan jemaah yang menunaikan ibadah haji tahun ini, Moh Kamil memilih berangkat ke Tanah Suci sebagai jemaah haji mandiri tanpa bergabung dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).

Namun, keberangkatannya bukan hanya untuk menunaikan rukun Islam kelima bagi dirinya sendiri.

Baca Juga: Prabowo Minta Pindad Rancang Mobil Khusus Anti Capek agar Tetap Bisa Sapa Rakyat

Di usianya yang belum genap 30 tahun, pemuda asal Sumenep, Jawa Timur, itu juga mengemban amanah sebagai ketua rombongan bagi 43 jemaah haji mandiri yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) SUB 77.

“Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU. Tapi setelah bertemu petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi,” kata Kamil di Makkah, Kamis (14/5/2026).

Keputusan berhaji secara mandiri tidak datang begitu saja. Sebelum berangkat, Kamil memperkuat pemahaman manasik dengan kembali belajar kepada guru-gurunya di pesantren.

Meski tidak mondok penuh, sejak kecil ia rutin mengikuti pengajian dan madrasah diniyah di kampung halamannya.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan 15 Porsi Makanan Siap Saji untuk Jemaah Saat Puncak Haji

Bekal tersebut kini digunakannya untuk membantu jemaah lain memahami alur ibadah haji.

Tantangan terbesar, menurutnya, justru datang dari perbedaan kemampuan jemaah dalam menerima informasi, terutama para lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi.

“Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana,” ujarnya.

Video tersebut dibuat menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Madura. Isinya praktis, mulai dari cara menggunakan lift hotel, menyiapkan koper, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, hingga penggunaan fasilitas selama berada di Arab Saudi.

Cara sederhana itu terbukti membantu para jemaah lansia lebih cepat memahami situasi. Kamil mengatakan sebagian jemaah bahkan masih kesulitan menggunakan aplikasi pesan singkat maupun melakukan panggilan video.

“Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami,” katanya.

Baca Juga: Prabowo Targetkan 20.000 Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Agustus 2026

Di rombongan yang sama, Suwaris Bahir juga merasa mantap memilih jalur haji mandiri sejak awal. Pria yang sehari-hari bekerja di sektor perikanan itu mengaku tidak pernah benar-benar khawatir menjalani ibadah haji tanpa KBIHU.

Menurutnya, manasik yang diberikan pemerintah sudah cukup detail untuk menjadi bekal ibadah.

“Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan,” ujarnya.

Suwaris mengikuti manasik berkali-kali, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Dari situ, ia merasa jemaah awam seperti dirinya benar-benar diarahkan secara bertahap.

Selain itu, petugas kloter juga dinilai aktif mendampingi jemaah selama berada di Tanah Suci.

“Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi,” katanya.

Baca Juga: Pemerintah Gagalkan Keberangkatan 32 WNI ke Arab Saudi Tanpa Visa Haji Resmi

Ia mengaku lebih nyaman menjalani ibadah secara mandiri karena tidak terlalu terikat aturan tambahan. Selain lebih fleksibel, jalur mandiri juga dianggap lebih ringan dari sisi biaya.

“Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih dari cukup,” ucapnya.

Cerita lain datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad, dosen asal Sumenep yang berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Porsi haji keluarga yang awalnya bukan untuk dirinya dilimpahkan setelah sang ayah wafat.

Di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang menderita stroke, Nurhayati tetap mempersiapkan diri secara perlahan.

Ia rutin berjalan kaki di sekitar desa dan taman kota untuk melatih stamina sebelum berangkat ke Tanah Suci.

“Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tertawa kecil.

Selain menjaga kondisi fisik, ia juga aktif belajar melalui media sosial dan grup jemaah.

Menurutnya, informasi digital sangat membantu jemaah mandiri memahami situasi terbaru di Arab Saudi.

Baca Juga: Prabowo Klaim MBG dan Kopdes Merah Putih Bisa Putar Rp 10,8 Miliar per Desa

Namun yang paling berkesan baginya justru suasana kebersamaan antarjemaah. Pada malam hari, ia kerap membantu anggota rombongan lain mengisi identitas atau membaca dokumen perjalanan.

“Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya.

Kekompakan jemaah mandiri Kloter SUB 77, menurut Ketua Kloter SUB 77 Asnawi, memang dibangun sejak jauh hari.

Ia menyadari mendampingi jemaah tanpa KBIHU membutuhkan pendekatan yang berbeda, apalagi lebih dari separuh anggota kloter merupakan lansia.

“Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter,” katanya.

Karena itu, sebelum keberangkatan, petugas kloter terlebih dahulu membangun kekompakan internal.

Setelah itu, para ketua regu dan ketua rombongan dikumpulkan untuk menyamakan pemahaman.

Baca Juga: Prabowo: Tidak Ada Orang Kebal Hukum, Termasuk dari Gerindra

Asnawi menanamkan satu gagasan sederhana, yakni setiap ketua rombongan adalah “kiai” bagi kelompoknya masing-masing.

“Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah,” ujarnya.

Pendekatan tersebut diperkuat melalui kunjungan rutin ke desa-desa dan wilayah kepulauan di Sumenep selama dua hingga tiga bulan sebelum keberangkatan.

Petugas datang langsung memberikan penjelasan tambahan, membantu simulasi manasik, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan para jemaah.

Hasilnya mulai terlihat setibanya mereka di Makkah. Para jemaah dinilai lebih tertib dan saling menjaga satu sama lain selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×