kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.027.000   167.000   5,84%
  • USD/IDR 16.805   20,00   0,12%
  • IDX 7.923   -406,88   -4,88%
  • KOMPAS100 1.108   -57,53   -4,94%
  • LQ45 806   -27,29   -3,27%
  • ISSI 278   -19,24   -6,46%
  • IDX30 421   -8,88   -2,07%
  • IDXHIDIV20 505   -4,36   -0,85%
  • IDX80 123   -5,79   -4,48%
  • IDXV30 135   -3,57   -2,57%
  • IDXQ30 137   -1,44   -1,04%

Gejala, Pola Penularan, dan Risiko Penyakit Virus Nipah Menurut WHO


Selasa, 03 Februari 2026 / 04:27 WIB
Gejala, Pola Penularan, dan Risiko Penyakit Virus Nipah Menurut WHO
ILUSTRASI. Dua kasus Nipah di India jadi peringatan. Ketahui gejala awal dan cara penularan virus mematikan ini agar Anda dan keluarga aman.(dok./https://unsplash.com/Fusion Medical Animation)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Ancaman penyakit infeksi emerging kembali menjadi perhatian serius otoritas kesehatan global menyusul laporan dua kasus terkonfirmasi Virus Nipah di West Bengal, India. Situasi ini dinilai sebagai ancaman penyakit menular lintas batas negara yang memerlukan kewaspadaan dan kesiapsiagaan sejak dini, termasuk bagi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan NPO Epidemiologist WHO Health Emergency (WHE) Programme WHO Indonesia, dr. Endang Widuri Wulandari, dalam pemaparannya pada webinar perkembangan terkini Virus Nipah di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Ia menegaskan bahwa Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi serta belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik.

“Virus Nipah adalah penyakit emerging dan re-emerging yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa. Oleh karena itu, kewaspadaan dini serta pemahaman masyarakat menjadi sangat penting,” ujar dr. Endang seperti yang dilansir dari InfoPublik.id.

Virus Nipah disebabkan oleh virus RNA dari famili Paramyxoviridae. Inang alaminya adalah kelelawar buah (Pteropus sp.) yang dapat menularkan virus ke manusia maupun hewan perantara seperti babi dan kuda.

Baca Juga: Kemenkes Siaga: Bahaya Virus Nipah Intai Indonesia?

Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa mekanisme utama, antara lain kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar dan babi, serta konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, seperti nira atau air aren mentah yang tercemar air liur atau urin kelelawar, maupun buah yang telah tergigit kelelawar.

Selain itu, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh pasien terinfeksi. Risiko penularan ini dilaporkan cukup tinggi di fasilitas pelayanan kesehatan, dengan sekitar 10% kasus melibatkan tenaga kesehatan.

Gejala dan Masa Inkubasi

Virus Nipah memiliki masa inkubasi umumnya antara 3 hingga 14 hari, namun dalam kondisi tertentu dapat mencapai 45 hari. Gejala awal bersifat tidak spesifik dan kerap menyerupai penyakit infeksi lainnya.

Gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Pada tahap lanjutan, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan akut seperti pneumonia atau acute respiratory distress syndrome (ARDS), serta gangguan sistem saraf berupa ensefalitis.

“Dampak jangka panjangnya cukup serius. Sekitar 20% pasien yang selamat dapat mengalami gangguan neurologis menetap, seperti kejang berulang dan perubahan perilaku,” jelas dr. Endang.

Baca Juga: Ekspor Desember 2025 Naik 11,64% YoY, Ditopang Nonmigas dan Industri Pengolahan




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×