kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.025,63   -7,01   -0.68%
  • EMAS932.000 -0,96%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Epidemiolog: RT-LAMP Masih Perlu Data Lapangan Untuk Menguatkan


Kamis, 13 Januari 2022 / 19:38 WIB
Epidemiolog: RT-LAMP Masih Perlu Data Lapangan Untuk Menguatkan
ILUSTRASI. Qirani 19 adalah alat deteksi Covid-19 metode RT-Lamp (Reverse-transcriptase Loop-mediated isothermal amplification) yang lebih murah


Reporter: Achmad Jatnika | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan bahwa inovasinya di bidang alat testing Covid-19 akhirnya mendapatkan izin edar.

Alat tersebut dinamai RT-LAMP atau reverse transcription loop mediated isothermal amplification. Perilisan ini disahkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/3602/2021.

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengungkapkan bahwa ia mendukung adanya inovasi ini, walaupun di efektivitas di lapangan, pemanfaatannya masih tandatanya, dan akan dilihat lagi bagaimana efektivitasnya dari sampel yang lebih banyak nantinya.

Baca Juga: RT-LAMP, Detektor Covid-19 Tanpa Alat PCR, Dapat Izin Edar Kemenkes

“Kalau disebut efektif, potensi efektivitasnya ada dan jauh lebih di atas GeNose. Karena dasarnya sudah lebih banyak negara, Brazil dan sebagainya, Namun, kalau bicara efektivitas di lapangan, pemanfaatannya ini yang masih tanda tanya,” kata Dicky kepada Kontan.co.id, Kamis (13/1).

Menurut Dicky, yang paling pertama harus diperhatikan adalah harga dari alat ini, karena tidak ditanggung pemerintah. “Pertama harga, kedua bicara kepraktisan, kemudahan. Yang paling pertama, itu harga dulu, karena ini tidak ditanggung pemerintah,” jelasnya.

Akan tetapi, menurutnya dari sisi kepraktisan, antigen akan lebih praktis, karena saat ini antigen sudah banyak yang mendekati PCR dari sisi kualitasnya dan akurasinya. Sehingga, menurut Dicky alat ini masih perlu data untuk menguatkan bahwa alat ini di atas antigen kualitasnya.

Selain itu, karena saat ini varian omicron sedang banyak dibicarakan, maka ia berpendapat bahwa alat ini harus menjawab terhadap varian ini seperti apa.

“Tapi sekarang kan bicara omicron, jadi harus menjawab terhadap varian baru seperti apa, harus ada yang menjawab dengan data,  secara umum kita apresiasi, tetapi sekali lagi, kita memerlukan data lapangan untuk memperkuat,” katanya.

RT-LAMP adalah alat tes yang termasuk ke dalam kategori tes molekul NAAT (Nucleic Acid Amplification test) bersama-sama dengan Quantitative Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM), dengan tingkat akurasi yang diklaim sangat baik.

Baca Juga: Kasus Covid-19 melandai, tes PCR di Kalgen Innolab juga turun

Perbedaan antara RT-Lamp dan RT-PCR adalah dalam proses amplifikasi gen target, reaksi RT-LAMP berlangsung secara isothermal atau suhu konstan sehingga tidak memerlukan alat thermocycler atau alat PCR.

Invensi RT-LAMP berupa paten terdaftar P00202110865 yang memiliki desain sistem menggunakan 2 gen target ORF dan gen N, 6 set primer, enzim reverse transcriptase, enzim polimerase; dengan sistem deteksi berbasis turbiditas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Storytelling with Data Berkomunikasi dengan Diplomatis dan Asertif

[X]
×