kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Elite Partai Demokrat menunjukkan perang terbuka


Jumat, 08 Februari 2013 / 12:59 WIB
ILUSTRASI. Suasana klaster di Metland Menteng yang dikembangkan PT Metropolitan Land Tbk (MTLA).


Reporter: Dyah Megasari |

JAKARTA. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diyakini tengah berusaha menggeser posisi Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Hanya saja, SBY tetap mengambil langkah elegan untuk melengserkan Anas.

Hal itu dikatakan pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto, Jumat ( 8/2), menanggapi polemik internal Demokrat.

Gun Gun mengatakan, langkah itu terlihat dari sikap SBY yang mendorong kejelasan perkara hukum dugaan korupsi proyek Hambalang yang dituduhkan kepada Anas di Komisi Pemberantasan Korupsi. Jika terjerat hukum, maka Anas akan diminta mengundurkan diri dari jabatan seperti tradisi di Demokrat selama ini.

Indikasi lain, tambah Gun Gun, terlihat dari sikap keras para elit Demokrat seperti Jero Wacik ketika menyikapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan elektabilitas Partai Demokrat tinggal 8,3%. Saat itu, Jero mengatakan, untuk menyelamatkan Demokrat akan lebih baik jika Anas mundur dari jabatannya. Mereka, kata Gun Gun, tidak akan berani bersikap begitu tanpa izin dari SBY.

"Sangat mungkin bahwa sesungguhnya SBY tahu atau bahkan merestui apa yang dilakukan Jero dan kawan-kawannya. Tak mudah bagi aktor di luar SBY untuk membuat manuver di luar kehendak SBY," kata dia.

Dengan demikian, menurut Gun Gun, kini sudah terjadi "perang" terbuka antar elit Demokrat. Perang itu mengerucut pada dua kekuasaan, yakni SBY dan Anas. Menurut dia, keberanian Anas untuk melawan karena telah menguasai struktur partai dari pusat sampai daerah. Selain itu, diduga Anas juga memegang kartu truf Demokrat.

"Anas dari gaya politiknya mirip sekali dengan SBY, yakni lebih mengutamakan politik harmoni. Jika melawan tetap akan memakai gaya yang hampir serupa, yakni cool, calm, confidence. Ibarat permainan bola, jika dua tim berkarakter sama bertemu, maka yang akan menjadi pemenang adalah yang mampu menjaga energi karena pertarungan jauh lebih berat, bahkan membosankan," papar dia.

Seperti diberitakan, polemik di Demokrat kembali mencuat pascarilis hasil survei SMRC. Angka elektabilitas tersebut  merupakan paling rendah pascapemilu 2009 . Pihak DPP Demokrat percaya elektabilitas Demokrat memang turun, namun tak percaya tinggal 8,3%.

SBY selaku Ketua Majelis Tinggi Demokrat akan mengumpulkan jajaran Majelis Tinggi di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor, Jumat sore. SBY mengaku sudah memiliki solusi menyelesaikan masalah Demokrat. Solusi itu akan dibicarakan dengan Majelis Tinggi. (Sandro Gatra/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×