kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Ekonomi Tumbuh Positif pada Kuartal II, Gubernur BI: Belum Pulih Benar


Rabu, 10 Agustus 2022 / 13:06 WIB
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/Pool/wsj.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2022 mencapai 5,44% secara tahunan (year on year/yoy). Pencapaian ini melanjutkan pertumbuhan positif pada kuartal I-2022 yang sebesar 5,01% yoy.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyoroti kinerja pertumbuhan ekonomi tersebut. Menurutnya meski menunjukkan kinerja yang positif, namun pencapaian tersebut masih belum cukup, karena pemulihan belum terjadi sepenuhnya.

“Alhamdulillah ekonomi kita bisa tumbuh sangat tinggi, 5,44%. Tapi ini belum pulih, karena rakyat baru mulai semego, baru mulai makan enak setelah Ramadan kemarin,” tutur Perry dalam acara kick off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, Rabu (10/8).

Pendapat tersebut diutarakan lantaran kondisi global sedang dalam ketidakpastian, utamanya karena ada perang antara Rusia dan Ukraina. Meski tak berimbas langsung, namun Indonesia turut merasakan dampak kenaikan harga energi dan juga pangan.

Baca Juga: Bos BI Sebut Perekonomian Dunia Tengah Menuju Stagflasi

Kenaikan harga-harga tersebut, lanjutnya juga turut  berdampak pada melemahnya perekonomian dunia. Meski begitu, Ia tetap bersyukur perekonomian RI jauh lebih baik dibandingkan negara lain seperti China yang pertumbuhannya hanya 3,3%.

Lebih lanjut, saat ini pihaknya juga sedang fokus untuk mengendalikan inflasi, khususnya inflasi pangan. Inflasi nasional yang sebesar 4,94% pada Juli, didorong oleh inflasi pangan yang mencapai 10,4%.

“Paling tinggi inflasi ini, kita pecah kalau inflasi pangan, 10,47% Mestinya inflasi pangan itu tidak boleh lebih dari 5% paling tinggi 6 persen. Inflasi Pangan itu masalah perut, masalah rakyat, dan itu langsung ke sejahtera,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×