CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,99   5,77   0.57%
  • EMAS992.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Ekonomi Sirkular Penting Segera Diterapkan, Ini Alasannya


Selasa, 24 Mei 2022 / 13:07 WIB
Ekonomi Sirkular Penting Segera Diterapkan, Ini Alasannya
ILUSTRASI. A worker sorts used plastic bottles to be recycled at a plastic recycling centre in Denpasar, Bali, Indonesia, June 21, 2019. REUTERS/Johannes P. Christo


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi sirkular dinilai salah satu konsep yang bisa diterapkan dalam menjaga keberlanjutan dan menjadikan bumi tetap layak huni. Hal itu ditekankan dalam Forum Pra-Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketiga Y20 Indonesia.

Ekonomi sirkular merupakan model industri baru yang berfokus pada reducing, reusing, dan recycling yang mengarah pada pengurangan konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah.

Konsep ini bukan hanya fokus terhadap pengelolaan limbah. Tetapi juga selanjutnya menggunakan proses produksi, di mana bahan baku dapat digunakan berulang-ulang. Sehingga akan terjadi penghematan yang besar terutama untuk sumber daya alam.

Ekonomi sirkular ini sudah seharusnya segera diterapkan untuk menggantikan konsep ekonomi linier yang selama ini diterapkan.

Baca Juga: Berkolaborasi dengan Sukin, Sociolla Luncurkan Recycle Station Skala Nasional

Dalam konsep ekonomi linear, sumber daya alam diambil untuk memproduksi barang yang pada akhirnya akan dibuang. Pola ini bermuara pada perilaku konsumsi secara berlebih dan produksi limbah yang berlebihan.

Oleh sebab itu, para delegasi dalam forum tersebut menyerukan pentingnya menerapkan ekonomi sirkular berbasis produksi dan konsumsi berkelanjutan.

Center of Competence for Climate Change Alesya Krit berpendapat pentingnya berpikir secara lokal dalam upaya mendorong konsumsi berkelanjutan. Di sisi lain, solusi ini perlu disesuaikan dengan wilayah tujuan, serta selaras dengan dimensi sosial dan budaya setempat.

“Kita harus berpikir lokal dan menyesuaikan solusi tersebut dengan wilayah tujuan, serta cocok dengan dimensi sosial dan budaya setempat. Kemudian, bentuklah perspektif normatif dan ajaklah pekerja, teman, warga untuk mengenal mindset baru,” katanya dalam keterangan resmi Y20 Indonesia, Selasa (24/5).

Sementara Joi Danielson Partner di Systemiq mengatakan, sebelum masuk ke pembahasan ekonomi sirkular, pola konsumsi perlu diperhatikan. Menurutnya, orang cenderung takut akan kelangkaan sehingga cenderung mengonsumsi lebih dari apa yang dibutuhkan.

Di sebuah ekonomi yang berbasis konsumsi, lanjutnya, semakin banyak yang dikonsumsi, semakin tinggi produk domestik bruto (PDB).

“Jadi sistem kita mengandalkan konsumsi berlebihan. Jika kita bisa membantu orang merasa bahwa apa yang mereka miliki sudah cukup, kita bisa meyakinkan mereka untuk hanya mengonsumsi yang dibutuhkan. Dengan ini, kita bisa mulai memutus siklus konsumsi tersebut," jelas Joi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ke Wang Program Lead di Platform for Accelerating Circular Economy. Menurutnya, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular tidak hanya bisa mengakibatkan perubahan kebiasaan, tetapi juga perubahan kebijakan.

“Karena para politisi mendengarkan aspirasi masyarakat. Namun, kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular masih sangat rendah. Di sinilah, anak muda memainkan perannya. Generasi muda telah menunjukkan bahwa mereka memegang peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim,” jelas Ke Wang.

Baca Juga: Tren Daur Ulang Makin Marak, Pengguna Aplikasi Plasticpay Naik Hingga 7 Kali Lipat

Mohammad Bijaksana Junerosano, CEO dan Founder Waste4Change, menambahkan populasi dunia saat ini telah mencapai 7,9 miliar jiwa. Untuk mencapai perubahan, diperlukan kesadaran dari 4 persen populasi atau 10 juta orang Indonesia terkait dengan ekonomi sirkular.

“Solusi datang lebih lambat daripada terjadinya kerusakan lingkungan. Kita harus memikirkan bagaimana kita bisa mempercepat solusi tersebut. Tapi yang terpenting, kita harus optimistis bahwa kita bisa melakukan perubahan dengan berkolaborasi,” tutur Junerosano.

Sebagaimana diketahui, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara anggota G20 dan pertemuan pemuda G20 atau dikenal Y20.

Terdapat empat bidang prioritas yang akan diusung dalam acara ini, yakni ketenagakerjaan pemuda, transformasi digital, planet yang berkelanjutan dan layak huni, keragaman dan inklusi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×