kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Ekonom perkirakan CAD kembali melebar di 2016


Senin, 11 Januari 2016 / 23:05 WIB


Sumber: Antara | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Kalangan ekonom memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) akan kembali membesar pada akhir 2016 di kisaran 2%-2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun menurut Ekonom Senior Kenta Institute Eric Alexander Sugandi dalam paparan ekonomi-politik di Jakarta, Senin (11/1), pelebaran itu karena pemulihan ekonomi yang membutuhkan importasi barang modal dan bahan baku demi mengakselerasi pembangunan.

"Memang membesar, saya perkirakan ke 2,0% dari PDB, dari (perkiraan) 2015 sebesar 1,8% dari PDB, namun ini karena kebutuhan pembangunan infrastruktur," katanya.

Dari kajiannya, Eric mengatakan, kebutuhan pembangunan infrastruktur dan sektor lain sepanjang 2016 akan mengerek laju impor hingga US$ 160 miliar pada akhir tahun, di mana 83% merupakan impor non-minyak dan gas bumi (migas) sebesar US$ 134 miliar.

Sementara ekspor tetap tumbuh, meskipun tidak signifikan.

Eric memprediksi nilai ekspor menjadi US$ 172 miliar pada akhir 2016 dari perkiraan US$ 166 miliar 2015.

Dengan demikian, neraca perdagangan 2016 diprediksi Eric surplus US$ 12 miliar.

Namun, surplus tersebut tertekan paling besar oleh defisit neraca pendapatan primer yang diperkirakan mencapai US$ 27 miliar dan neraca jasa yang defisitnya stagnan dengan 2015 di kisaran US$ 8 miliar.

Untuk neraca pendapatan sekunder, dia memprediksi surplus akan bertahan sama dengan 2015 sebesar US$ 5 miliar.

"Oleh karena itu, kami lihat defisit current account sebesar US$ 18 miliar atau 2% dari PDB," ujarnya.

Sementara, Ekonom DBS Bank yang berbasis di Singapura, Gundy Cahyadi, memprediksi defisit transaksi berjalan di akhir 2016 akan melebar ke 2,5$ terhadap PDB.

"Ekspor kurang bersemangat. Ini adalah kombinasi dari permintaan global yang lesu dan masih kurangnya daya saing. Pertumbuhan ekspor Indonesia dari barang-barang manufaktur belum membaik," ujarnya.

(Indra Arief Pribadi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×