kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 18.202   17,00   0,09%
  • IDX 5.282   16,18   0,31%
  • KOMPAS100 686   3,41   0,50%
  • LQ45 539   6,45   1,21%
  • ISSI 177   -2,03   -1,14%
  • IDX30 303   3,34   1,12%
  • IDXHIDIV20 406   6,22   1,56%
  • IDX80 79   0,40   0,52%
  • IDXV30 112   0,64   0,58%
  • IDXQ30 102   1,33   1,33%

Ekonom perkirakan CAD kembali melebar di 2016


Senin, 11 Januari 2016 / 23:05 WIB


Sumber: Antara | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Kalangan ekonom memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) akan kembali membesar pada akhir 2016 di kisaran 2%-2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun menurut Ekonom Senior Kenta Institute Eric Alexander Sugandi dalam paparan ekonomi-politik di Jakarta, Senin (11/1), pelebaran itu karena pemulihan ekonomi yang membutuhkan importasi barang modal dan bahan baku demi mengakselerasi pembangunan.

"Memang membesar, saya perkirakan ke 2,0% dari PDB, dari (perkiraan) 2015 sebesar 1,8% dari PDB, namun ini karena kebutuhan pembangunan infrastruktur," katanya.

Dari kajiannya, Eric mengatakan, kebutuhan pembangunan infrastruktur dan sektor lain sepanjang 2016 akan mengerek laju impor hingga US$ 160 miliar pada akhir tahun, di mana 83% merupakan impor non-minyak dan gas bumi (migas) sebesar US$ 134 miliar.

Sementara ekspor tetap tumbuh, meskipun tidak signifikan.

Eric memprediksi nilai ekspor menjadi US$ 172 miliar pada akhir 2016 dari perkiraan US$ 166 miliar 2015.

Dengan demikian, neraca perdagangan 2016 diprediksi Eric surplus US$ 12 miliar.

Namun, surplus tersebut tertekan paling besar oleh defisit neraca pendapatan primer yang diperkirakan mencapai US$ 27 miliar dan neraca jasa yang defisitnya stagnan dengan 2015 di kisaran US$ 8 miliar.

Untuk neraca pendapatan sekunder, dia memprediksi surplus akan bertahan sama dengan 2015 sebesar US$ 5 miliar.

"Oleh karena itu, kami lihat defisit current account sebesar US$ 18 miliar atau 2% dari PDB," ujarnya.

Sementara, Ekonom DBS Bank yang berbasis di Singapura, Gundy Cahyadi, memprediksi defisit transaksi berjalan di akhir 2016 akan melebar ke 2,5$ terhadap PDB.

"Ekspor kurang bersemangat. Ini adalah kombinasi dari permintaan global yang lesu dan masih kurangnya daya saing. Pertumbuhan ekspor Indonesia dari barang-barang manufaktur belum membaik," ujarnya.

(Indra Arief Pribadi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×