kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ekonom: Neraca dagang April berpotensi surplus


Jumat, 30 Mei 2014 / 14:54 WIB
ILUSTRASI. Tetap Waspada, Ini Penyebab Pembuluh Darah Otak Pecah dan Langkah Penanganannya.


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Akibat aktivitas impor yang kembali meningkat, Bank Indonesia (BI) memperkirakan neraca dagang pada bulan April akan mengalami defisit.

Namun, di mata Ekonom Bank Danamon, Dian Ayu Yustina, neraca perdagangan pada bulan April masih berpotensi surplus. Bahkan, surplus yang terjadi diperkirakan sebesar US$ 423 juta.

Harga komoditas memang tidak menunjukkan adanya peningkatan pada bulan April. Namun, Dian memperkirakan, akan ada peningkatan ekspor yang datang dari barang-barang manufaktur.

"Data awal menunjukkan adanya peningktan ekspor ke Korea, Singapur, dan Taiwan, meskipun ekspor ke China masih menurun," tuturnya dalam siaran pers yang diterima KONTAN, Jumat (30/5).

Pada sisi impor, penurunan impor masih akan terjadi sebagai dampak kegiatan ekonomi yang moderat di tengah pelemahan nilai tukar dan kenaikan suku bunga tahun lalu.

Namun, dalam beberapa bulan mendatang impor akan meningkat, seiring meningkatnya konsumsi sebagai efek bulan puasa dan Lebaran.

Sebagai informasi, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan kondisi neraca dagang pada bulan April akan mengalami defisit. Penyebab utama defisit adalah dari impor yang membesar. "Dibanding Maret peningkatan (impornya) sampai 11%," ujar Agus, Jumat (30/5).

Tekanan impor yang meningkat ini sebagai akibat musim persiapan lebaran. Di sisi lain, ekspor mengalami tekanan terutama pada komoditas andalan seperti kelapa sawit dan batu bara. Harga komoditas masih lemah.

Apalagi, permintaan dari China turun seiring dengan melambatnya perekonomian negeri tirai bambu tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×