kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45796,59   20,69   2.67%
  • EMAS934.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.03%
  • RD.CAMPURAN 0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Ekonom BCA menilai penyesuaian target pariwisata oleh pemerintah masih realistis


Minggu, 21 Juni 2020 / 20:19 WIB
Ekonom BCA menilai penyesuaian target pariwisata oleh pemerintah masih realistis
ILUSTRASI. Penerimaan devisa pariwisata hanya akan berada di kisaran US$ 2,8 miliar-US$ 4,0 miliar.

Reporter: Bidara Pink | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung melumpuhkan sektor pariwisata. Covid-19 memaksa adanya pembatasan mobilitas lewat pintu masuk wisatawan sehingga menurunkan pergerakan wisatawan baik nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman).

Penurunan tersebut juga berpotensi menurunkan penerimaan devisa pariwisata. Pasalnya, seperti yang diketahui, kunjungan wisatawan merupakan salah satu sumber devisa bagi Indonesia. Untuk itu, pemerintah melakukan penyesuaian target pariwisata 2020 - 2024.

Di tahun ini, pemerintah bidik kunjungan wisman sebesar 2,8 juta kunjungan hingga 4 juta kunjungan. Jumlah ini menurun drastis dari realisasi kunjungan wisman pada tahun lalu yang mencapai 16,1 juta kunjungan.

Baca Juga: Pembatasan aktivitas bisa jadi hambatan target devisa pariwisata tahun ini

Dengan jumlah kunjungan tersebut, diperkirakan penerimaan devisa pariwisata hanya akan berada di kisaran US$ 2,8 miliar-US$ 4,0 miliar. Target ini tentu juga anjlok dari devisa pariwisata di sepanjang tahun 2019 yang mencapai US$ 19,7 miliar.

Ekonom BCA David Sumual menilai, target yang dipatok pemerintah saat ini merupakan target yang realistis. Dia juga optimistis kalau target tersebut akan tercapai di tahun ini.

"Karena pada 2,5 bulan pertama di tahun 2020, masih relatif normal meski menurun. Diharapkan, pada akhir tahun kalau Covid-19 tidak muncul gelombang keduanya, maka pariwisata di akhir tahun juga bisa meningkat lagi meski tidak sebesar pra Covid-19," kata David kepada Kontan.co.id, Minggu (21/6).

Baca Juga: Pengunjung tanpa masker dilarang masuk tempat wisata, ini syarat lainnya

Optimisme ini juga berdasar pada pemerintah yang telah mengalokasikan insentif untuk industri pariwisata. Insentif ini bisa digelontorkan saat Covid-19 sudah selesai sehingga bisa menjadi rangsangan bagi meningkatnya geliat sektor pariwisata.

David pun mengimbau agar pemerintah bisa lebih fokus untuk menekan angka penularan Covid-19. Hal ini akan membawa dampak psikologis, yaitu menurunnya kekhawatiran baik masyarakat Indonesia maupun global yang akan melakukan wisata, sehingga ini akan membawa angin segar bagi prospek pariwisata Indonesia ke depannya.

Selain itu, di masa ini pemerintah juga bisa melakukan konsolidasi pariwisata, yaitu dengan melakukan pelatihan bagi pelaku industri pariwisata yang saat ini kehilangan pekerjaannya. Hal ini sebagai usaha dalam meningkatkan kualitas. "Bisa berupa bagaimana strategi marketing yang baik, lalu ada pelatihan tertentu dalam mendorong pariwisata kita setelah nanti Covid-19. Karena pesaing kita akan banyak nantinya. Negara-negara lain yang mengandalkan pariwisata," jelas David.

Baca Juga: Penyedia jasa perjalanan wisata dan umrah berharap minat masyarakat berwisata bangkit

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×