kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

BI: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat Hadapi Dampak Perang Timur Tengah


Rabu, 22 April 2026 / 16:55 WIB
BI: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat Hadapi Dampak Perang Timur Tengah
ILUSTRASI. Gubernur BI Perry Warjiyo tegaskan ekonomi Indonesia kokoh meski dihantam gejolak global.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dalam menghadapi dampak gejolak geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang menekan pasar keuangan dunia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, ketahanan ekonomi domestik masih terjaga dengan baik, tercermin dari sejumlah indikator utama.

“Fundamental ekonomi kita kuat sehingga ketahanan eksternal kita juga tetap kuat dalam menghadapi dampak dari geopolitik, termasuk perang di Timur Tengah,” ujar Perry dalam konfrensi pers virtual, Rabu (22/4/2026).

Ia merinci, kekuatan tersebut ditopang oleh inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi di atas 5%, stabilitas nilai tukar rupiah, serta pertumbuhan kredit yang terjaga. Selain itu, kondisi neraca pembayaran juga relatif solid dengan defisit transaksi berjalan yang rendah serta cadangan devisa yang memadai.

Baca Juga: Instrumen SRBI Tembus Rp 885,41 Triliun, Investor Asing Kuasai 18,75%

Perry menambahkan, sinergi kebijakan antara BI dan pemerintah terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan dilakukan untuk merespons berbagai risiko global, mulai dari kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, hingga tingginya imbal hasil US Treasury.

Dari sisi eksternal, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap menunjukkan daya tahan. Neraca perdagangan pada Januari–Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$ 2,2 miliar, yang terutama ditopang oleh surplus sektor nonmigas serta penurunan defisit migas.

Sementara itu, pada transaksi modal dan finansial, investasi portofolio asing pada Januari–Maret 2026 mencatat net outflows sebesar US$ 1,7 miliar akibat meningkatnya ketidakpastian global. Namun, pada awal triwulan II 2026 hingga 20 April 2026, aliran modal kembali mencatat net inflows sebesar US$ 1,9 miliar.

“Aliran masuk modal asing tersebut terutama ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), didorong peningkatan imbal hasil,” jelas Perry.

Baca Juga: BI: Indikator Ekonomi RI Tetap Baik di Kuartal I-2026 Meski Ada Gejolak Global

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar US$ 148,2 miliar. Angka ini setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ke depan, BI memandang sinergi kebijakan perlu terus diperkuat untuk menjaga ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian global. Bank sentral juga memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2026 tetap terjaga dalam kisaran 0,5% hingga 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×