kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Dolar AS Diproyeksi Ambruk, Gubernur BI Ramal Rupiah Menguat pada Semester II-2024


Selasa, 05 Maret 2024 / 14:24 WIB
Dolar AS Diproyeksi Ambruk, Gubernur BI Ramal Rupiah Menguat pada Semester II-2024
ILUSTRASI. BI proyeksi rupiah menguat di semester II-2023, seiring pelemahan dolar AS


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengakui bahwa dalam beberapa waktu terakhir nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan keperkasaannya.

Namun, dirinya memperkirakan nilai tukar dolar AS akan anjlok pada semester II-2023 seiring dengan pemerintah AS yang akan mengubah arah kebijakannya.

"Dolar masih tetap kuat untuk beberapa waktu. Namun, kita akan melihat dolar melemah pada semester II karena AS mengubah arah kebijakannya agar tetap berada di pasar global," ujar Perry dalam acara Mandiri Investment Forum 2024, Selasa (5/3).

Perry menyebut, Fed Fund Rate (FFR) yang saat ini berada pada kisaran 5,25%-5,5% akan turun sebesar 75 basis poin (bps) pada Semester II-2024.

Baca Juga: Gubernur BI Beri Sinyal Akan Turunkan Suku Bunga di Semester II-2024

Menurutnya, turunnya suka bunga AS pada periode tersebut juga akan dipengaruhi oleh melemahnya tekanan inflasi di AS yang saat ini mulai melandai walau masih di level yang tinggi pada kisaran 3%.

"Kami memperkirakan suku bunga The Fed akan turun sekitar 75 bps pada semester II. Kami masih memperkirakan waktu pastinya, namun sebagian besar pada semester II," katanya.

Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) akan terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Dengan kondisi tersebut, dirinya memperkirakan nilai tukar rupiah akan mengalami apresiasi. Harapannya, apresiasi nilai tukar Rupiah tersebut bisa menjaga inflasi tetap terkendali serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kami yakin nilai tukar akan terapresiasi pada semester II. Oleh karena itu, kita mengasuransikan apresiasi nilai tukar tersebut untuk mendukung inflasi kita dan tentu saja untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," terang Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×