Reporter: kompas.com | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membantah narasi dalam film dokumenter Pesta Babi yang menyoroti pembukaan lahan di Merauke, Papua Selatan, untuk proyek pangan nasional.
Menurut Amran, program pengembangan lahan pertanian di Merauke merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Dalam kuliah umum yang diikuti sekitar 500 mahasiswa Universitas Negeri Makassar, Rabu (3/6/2026), Amran menilai film tersebut tidak menampilkan secara utuh keberhasilan program optimalisasi lahan yang telah dijalankan pemerintah di berbagai daerah.
Baca Juga: PSN Food Estate Merauke Strategis untuk Ketahanan Pangan Jangka Panjang
"Kenapa tidak melihat daerah lain yang berhasil kami tingkatkan produktivitasnya hingga bisa panen tiga kali setahun?" ujar Amran dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).
Amran mengatakan pemerintah telah mengembangkan lahan pertanian dan mencetak sawah di sejumlah wilayah, seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Menurut dia, program serupa di Merauke dijalankan untuk meningkatkan produksi pangan melalui pembangunan irigasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta optimalisasi lahan bagi petani.
Ia juga mengklaim program cetak sawah di Merauke telah berkontribusi menurunkan harga beras di wilayah tersebut dari sekitar Rp30.000 menjadi Rp13.000 per kilogram. "Yang kami lakukan di Merauke untuk rakyat," kata Amran.
Amran menduga kritik terhadap proyek tersebut muncul seiring langkah Indonesia menuju swasembada pangan. Ia menegaskan lahan yang dikembangkan pemerintah merupakan lahan rawa yang dioptimalkan untuk produksi pangan.
Baca Juga: Upaya Mendorong PSN Wanam Jadi Pusat Cadangan Pangan Nasional
Film dokumenter Pesta Babi sendiri menyoroti dugaan deforestasi di Merauke untuk pengembangan pertanian padi, perkebunan tebu, kelapa sawit, dan peternakan sapi.
Film itu juga mengangkat isu pembelian hutan adat serta dampak lingkungan dari proyek yang terkait dengan target produksi beras, biodiesel B50, dan bioetanol. Hingga kini, film tersebut telah diputar di berbagai forum di dalam dan luar negeri, serta ditonton lebih dari 13 juta kali di YouTube dalam 13 hari.
Di sisi lain, sejumlah warga di Distrik Wanam menyatakan harapan agar pembangunan proyek strategis nasional (PSN) food estate terus berlanjut.
Petani setempat, Inosensio Sigipse atau yang akrab disapa Papa Ino, menilai proyek tersebut berpotensi mendorong pembangunan infrastruktur dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
"Kalau ada pembangunan, mungkin bisa bangun perumahan dan jalan, supaya kami lebih mudah menjual hasil tani," ujarnya seperti dikutip dari Tribunnews.
Baca Juga: Merauke Diproyeksikan Jadi Pilar Baru Ketahanan Pangan Nasional
Menurut Papa Ino, kondisi ekonomi masyarakat setempat masih menghadapi tantangan karena hasil pertanian tidak selalu terserap pasar. Karena itu, ia berharap proyek pengembangan pangan dapat membuka akses yang lebih luas bagi petani sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/06/04/175454126/jawab-pesta-babi-amran-kita-pesta-panen-bukan-ketergantungan-impor?page=all#page2.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













