Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah ketidakpastian global, pemerintah Indonesia masih optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun ini dan tahun depan di atas 5%.
Optimisme ini didasarkan pada membaiknya pemulihan ekonomi domestik dan komponen-komponen pendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus menunjukkan kinerja positif.
Meski begitu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa saat ini dunia menghadapi situasi yang tidak mudah, khususnya di sektor pangan energi maupun sektor keuangan.
Untuk itu, adanya isu stagflasi dan resesi menjadi tantangan bagi seluruh pemangku kebijakan di dunia.
Baca Juga: Menko Airlangga Pede Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Akhir 2022 Bisa Tembus 5,2%
"Terkait gejolak internal kita harus terus bertahan dan pemerintah menjaga stabilitas daya beli masyarakat," ujar Airlangga dalam acara Investor Daily Summit 2022 di Jakarta, Selasa (11/10).
Airlangga menyampaikan, beberapa lembaga seperti Fitch dan S& P melihat perekonomian Indonesia masih relatif stabil di tengah banyak negara yang mengalami penurunan rating.
Hal ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan pengelolaan utang, fiskal dan moneter masih cukup prudent.
Dengan pencapaian tersebut, Airlangga masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terjaga di rentang 5,2% secara tahunan atau year on year (yoy) dan di tahun depan berada pada kisaran 4,8% hingga 5,3% yoy.
Baca Juga: Sri Mulyani Sebut 6 Bulan ke Depan Sepertiga Dunia Akan Mengalami Tekanan Ekonomi
Oleh karena itu, untuk mendukung pertumbuhan dan pemulihan ekonomi, pemerintah telah menyiapkan anggaran pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp 456,6 triliun.
"Ini harus terus dijaga dan pemerintah terus lakukan kebijakan antara lain pelonggaran aktivitas masyarakat, kebijakan fiskal sebagai shock absorber, stabilisasi harga administered price kemudian peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia), pengembangan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dan reformasi struktural melalui implementasi Undang-Undang Cipta Kerja," tambahnya.
Airlangga juga menyebut, pemerintah terus mendorong reformasi struktural melalui implementasi Undang-Undang Cipta Kerja dan mendorong pemerataan infrastruktur melalui lembaga sovereign wealth fund (SWF).
Baca Juga: Rupiah Masih Akan Melemah Cukup Lama, Ini Penyebabnya
Sementara dari sisi ketahanan eksternal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu tumbuh di atas 6% meskipun nilai tukar Rupiah terdepresiasi sebesar 6,5%.
Meski begitu, banyak negara yang mengalami penurunan lebih dalam jika dibandingkan dengan Indonesia, sebut saja Inggris yang terdepresiasi 20%. "Banyak negara yang lebih rendah dari kita. Ini menunjukkan resiliensi Indonesia relatif kuat," tutur Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News