kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

DEN Sebut Harga Nikel Indonesia Perlu Dijaga di Level US$ 18.000 - US$ 20.000 per Ton


Rabu, 03 Juni 2026 / 20:38 WIB
DEN Sebut Harga Nikel Indonesia Perlu Dijaga di Level US$ 18.000 - US$ 20.000 per Ton
ILUSTRASI. DEN Sebut Harga Nikel Indonesia Perlu Dijaga di Level US$ 18.000 - US$ 20.000 Per Ton (KONTAN/Arif Ferdianto)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga nikel pada tingkat yang ideal bagi seluruh pelaku industri. 

Pemerintah menilai fluktuasi harga yang terlalu tinggi justru berpotensi merugikan keberlangsungan pasar komoditas nikel dalam jangka panjang.

Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto menyatakan, lonjakan harga komoditas yang terlampau tinggi seperti yang terjadi beberapa tahun lalu terbukti telah memberikan tekanan besar bagi industri hilir. 

"Kita harus menjaga titik harga nikel yang itu comfortable buat semua orang. Kenapa ini penting? Karena gini, waktu 2022 harga nikel melonjak US$ 50.000, perusahaan stainless steel itu pada komplain," ujarnya dalam rangkaian acara Indonesia Critical Minerals Conference 2026, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga: Industri Pengolahan Nikel Hingga Semikonduktor Jadi Pendorong Ekspor Kuartal I-2026

Seto menjelaskan, tingkat harga nikel di atas batas wajar akan mengikis margin keuntungan produsen baja nirkarat dan memicu peralihan ke bahan baku substitusi. 

"Kenapa? Above US$ 24.000 harga nikel, itu perusahaan stainless steel gak ada yang untung. Ya akhirnya apa? Mereka akan pakai nanti yang recycling-nya, scrap-nya segala macam, jadi nikel primering-nya akan turun," jelasnya.

Efek domino dari tingginya harga komoditas ini juga dinilai bakal membebani industri sekunder lain yang tengah berkembang pesat, seperti sektor kendaraan listrik. 

"Perusahaan baterai akan suffer, kenapa? Karena harga nikelnya tinggi. Kalau dia suffer, dia lepas dulu dong ke perusahaan EV-nya jadi lebih mahal," tutur Seto.

Menurut Seto, titik ideal atau sweet spot harga komoditas tambang andalan Indonesia tersebut kini telah bergeser naik akibat adanya perubahan sejumlah komponen biaya internal.

"Jadi saya selalu bilang, kalau dulu ya, US$ 16.000 sampai US$ 18.000 itu adalah sweet spot buat harga nikel Indonesia. Kenapa? Tambang di Indonesia bisa untung, terus kemudian smelter-nya juga masih bisa untung, perusahaan stainless steel-nya masih bisa untung, perusahaan EV-nya juga masih bisa untung," katanya.

Namun, Seto kini merekomendasikan target harga baru yang dinilai lebih realistis untuk mengomodasi kepentingan penambang maupun pengguna akhir di tengah perubahan regulasi saat ini. 

Baca Juga: Purbaya Siapkan Pungutan Bea Keluar dan Windfall Tax Nikel, Ini Tujuannya

"Tapi sekarang dengan adanya perubahan Harga Patokan Mineral (HPM), royalty segala macam, sulfur, mungkin kita coba maintain di antara US$ 18.000 sampai US$ 20.000," ungkapnya.

Sebagai langkah konkret intervensi pasar, DEN telah berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memanfaatkan instrumen kuota produksi jika harga mulai merangkak naik secara signifikan. 

"Saya sampaikan ke teman-teman (Kementerian) ESDM, kalau sudah di atas harga US$ 20.000, selama beberapa periode tertentu, misalnya 6 bulan, 9 bulan, kita harus tambah RKAB-nya. Jadi, ya kita nggak coba mengendalikan harga, kita coba jaga lah supply dan demand-nya ini," tegas Seto.

Lebih lanjut, Seto menambahkan, langkah pengelolaan pasokan ini dinilai penting mengingat posisi strategis dan dominasi besar yang dimiliki oleh Indonesia dalam peta produksi nikel di tingkat global. 

"Kenapa? Karena kita 65% (produksi nikel dunia) gitu. Masa kita mau bunuh diri kita sendiri dengan creating oversupply gitu ya. Ya kita mendengarkan komplain dari sektor swasta, tapi kita harus melihat gimana kita membuat ekosistem yang sehat," pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 227.K/MB.01/MEM.B/2026 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batubara Acuan untuk Periode Pertama Bulan Juni Tahun 2026, harga nikel ditetapkan sebesar US$ 18,799,29 per dry metric tonne (dmt), sementara di periode kedua Mei 2026 sebesar US$ 18.849,29 per dmt.

Baca Juga: Prabowo: RI Harus Tentukan Harga Komoditas Sendiri untuk Sawit Hingga Nikel

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×