kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Deflasi 4 Bulan Beruntun, Indef Desak BI Turunkan Suku Bunga


Senin, 16 September 2024 / 14:22 WIB
Deflasi 4 Bulan Beruntun, Indef Desak BI Turunkan Suku Bunga
ILUSTRASI. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendorong agar Bank Indonesia (BI) segera menurunkan suku bunga acuan atau BI rate yang saat ini berada di level 6,25%, untuk menghindari terjadinya deflasi berkepanjangan.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendorong agar Bank Indonesia (BI) segera menurunkan suku bunga acuan atau BI rate yang saat ini berada di level 6,25%, untuk menghindari terjadinya deflasi berkepanjangan.

Sebagaimana yang sudah diketahui, indeks harga konsumen (IHK) mengalami deflasi selama empat bulan beruntun, yakni sejak Mei hingga Agustus 2024.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menyampaikan, deflasi biasanya terjadi karena bank sentral mengurangi jumlah uang beredar yang ada di pasar dan menaikkan tingkat suku bunga.

Ia juga menilai, deflasi yang terjadi beruntun selama berbulan-bulan, merupakan tanda krisis ekonomi akan terjadi. Masalahnya, deflasi juga terjadi di tengah daya beli masyarakat yang sedang turun.

Baca Juga: Ruang Pemangkasan Suku Bunga Terbuka, Tapi BI Diminta Lebih Hati-Hati

Daya beli masyarakat menurun karena, upah yang mereka terima tidak sebanding dengan kenaikan inflasi.

“Kita minta otoritas moneter melakukan intervensi, dengan menurunkan suku bunga, menggunakan instrumen moneter lain seperti giro wajib minimum. Kemudian dorong kredit yang selama ini tidak terjadi. Karena sektor perbankan lebih suka menyimpan aset portofolio nya di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” tutur Eshter dalam agenda Melanjutkan Kritisisme Faisal Basri: Memperkuat Masyarakat Sipil, Mengawasi Kekuasaan, Minggu (15/9).

Esther mencontohkan, deflasi beruntun pernah terjadi pada tahun 1999, 2008, 2020 lalu, yang juga menjadi alarm tanda krisis ekonomi.

Deflasi pada 1999 terjadi selama tujuh bulan beruntun atau dari Maret-September 1999. Pada tahun tersebut terjadi deflasi merupakan bagian dari proses pemulihan krisis moneter 1998.

Selanjutnya, pada 2008 sekitar Desember-Januari 2009, dan pada 2020 terjadi tiga bulan beruntun atau pada Juli hingga September 2024.

“Pada tahun-tahun tersebut ketika terjadi deflasi berbulan-bulan karena ada krisis. Nah kita harus waspada, sekarang ini empat bulan beruntun terjadi deflasi. Artinya kondisi ekonomi sedang berkontraksi,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×