Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia menegaskan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu pilar strategis transformasi ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global dan memperkuat ketahanan jangka panjang, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menyampaikan bahwa sektor ekonomi dan keuangan syariah tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional 2025 sebesar 5,11% year on year (yoy), sektor Halal Value Chain (HVC) tumbuh 6,2% yoy pada 2025, ditopang kinerja makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion.
Kontribusi HVC terhadap PDB meningkat 155 basis poin, dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025.
Di sektor keuangan, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66% yoy pada akhir 2025, didukung insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp 35 triliun, atau mencapai 4,49% dari batas 5,5%, per Desember 2025.
Baca Juga: Purbaya: Sektor Swasta Jadi Kunci Ekspansi Ekonomi Jangka Panjang
Selain itu, kinerja pembiayaan syariah juga didukung oleh berbagai program akselerasi, termasuk Bulan Pembiayaan Syariah yang pada 2025 mencatat realisasi Rp 939 miliar atau 60% di atas target Rp 589 miliar.
“Capaian ini menunjukkan daya tahan dan kontribusi nyata sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Destry mengutip keterangan tertulisnya, Minggu (15/2/2026).
Kinerja positif juga tercermin dari peningkatan pemanfaatan instrumen lindung nilai syariah yang tumbuh 86,5% yoy menjadi US% 466 juta. Di sektor keuangan sosial, penyaluran ZIS melalui BAZNAS hingga kuartal II-2025 mencapai Rp 52,5 triliun, meningkat 43% (ytd) dibandingkan 2024 sebesar Rp 36,8 triliun.
Inovasi blended finance melalui Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tumbuh 22% yoy dengan outstanding akhir 2025 sebesar Rp 1,4triliun. Peningkatan kinerja tersebut turut ditopang oleh penguatan literasi ekonomi dan keuangan syariah yang kini mencapai 50,18%, hampir dua kali lipat dibandingkan 2023.
Melalui implementasi Blueprint Eksyar 2030 yang berfokus pada penguatan rantai nilai halal, optimalisasi pembiayaan, serta perluasan literasi dan inklusi, Bank Indonesia bersama OJK dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat transformasi sektor syariah sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan.
Dari sisi industri jasa keuangan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa industri perbankan syariah mencatat kinerja membanggakan sepanjang 2025.
Total aset mencapai all time high atau tertinggi sepanjang masa pada posisi Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92% yoy. Sisi pembiayaan juga menunjukkan kinerja baik dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 705,22 triliun atau tumbuh 9,58% yoy.
Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp892,99 triliun atau tumbuh 10,14% yoy. OJK optimis tren positif ini berlanjut pada 2026, seiring prospek pertumbuhan ekonomi nasional, dengan tetap mencermati risiko geopolitik dan ketidakpastian global.
“Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain," kata Dian.
Baca Juga: PPPK Juga Dapat, THR ASN 2026 Makin Besar, Cek Gaji P3K Terbaru
Selanjutnya: Ini Sektor Saham yang Berpotensi Diuntungkan Saat Imlek dan Ramadan
Menarik Dibaca: Promo Bukber Jogja: 10 Hotel Murah di Bawah Rp 100 Ribu, Banyak Doorprize!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)