kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

CIPS: Ketahanan pangan harus jadi prioritas program Capres dan Cawapres


Senin, 15 Oktober 2018 / 21:49 WIB
CIPS: Ketahanan pangan harus jadi prioritas program Capres dan Cawapres
ILUSTRASI. Aktivitas jual beli kebutuhan pokok di pasar tradisional

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengatakan ketahanan pangan haruslah menjadi fokus program calon presiden dan calon wakil presiden. Dimana, ketahanan pangan ini tersedianya pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang.

Kepala Penelitian CIPS Hizkia Respatiadi mengatakan, ketahanan pangan sangat berkaitan erat dengan ketersediaan pangan, stabilitas pangan dan juga aksesibilitas (keterjangkauan) oleh masyarakat. 


Ketiga hal inilah yang harus fokus dibenahi para capres dan cawapres dalam program mereka terkait pangan. Selain itu, untuk mencapai ketahanan pangan, pemerintah sebaiknya tidak lagi menjadikan swasembada pangan sebagai tujuan utama pembangunan sektor pertanian Indonesia.

"Para capres dan cawapres sebaiknya fokus pada ketersediaan komoditas pangan yang berkualitas baik dan juga bisa dijangkau oleh segala lapisan masyarakat. Selama komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat tersedia dalam jumlah yang memadai, maka harganya stabil," ujar Hizkia seperti dalam siaran persnya, Senin (15/10).

Dia juga menjelaskan, penyediaan pangaan ini tak sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat saja. Penyediaan pangan kini juga termasuk bagaimana menyediakan pangan yang bergizi untuk masyarakat dan menciptakan food supply chain yang berkelanjutan untuk masyarakat.

“Food supply chain ini yang masih menjadi masalah di masyarakat. Food supply chain yang ada belum sustainable sehingga seringkali menimbulkan kekisruhan seperti naiknya harga komoditas pangan karena komoditas tersebut tiba-tiba menghilang dari pasaran dan sulit didapat,” tutur Hizkia.

Tak hanya itu, Hizkia pun merasa Indonesia perlu mengambil bagian dalam perdagangan internasiona. Pasalnya, bila Indonesia mengisolasi dirinya sendiri dengan program swasembada yang agresif dan merusak lingkungan, maka Indonesia akan merugikan petani dan rakyatnya sendiri.

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) M. Maulana meminta capres dan cawapres memperhatikan peranan pedagang pasar tradisional dalam mewujudkan ketahanan pangan. Menurutnya, peredaran bahan pangan di Indonesia melalui pasar tradisional mencapai 68%. 

Untuk itu, para pedagang pasar tradisional diharapkan bisa mengakses bahan pangan dibarengi dengan adanya kepastian harga, kualitas dan juga ketersediaan kuantitas tersebut.




TERBARU

Close [X]
×