kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.827.000   -10.000   -0,35%
  • USD/IDR 17.026   9,00   0,05%
  • IDX 7.050   -41,41   -0,58%
  • KOMPAS100 971   -5,72   -0,59%
  • LQ45 716   -1,98   -0,28%
  • ISSI 250   -2,10   -0,83%
  • IDX30 389   0,02   0,01%
  • IDXHIDIV20 488   -1,31   -0,27%
  • IDX80 110   -0,58   -0,53%
  • IDXV30 135   -1,27   -0,93%
  • IDXQ30 127   0,15   0,12%

Chatib Basri Prediksi The Fed Akan Naikkan Suku Bunga di Kuartal I 2022


Rabu, 12 Januari 2022 / 17:51 WIB
ILUSTRASI. Mantan Menteri Keuangan M Chatib Basri memperkirakan, The Fed akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mantan Menteri Keuangan M Chatib Basri memperkirakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. 

Ia menduga, The Fed akan mengerek suku bunga kebijakan di paruh pertama tahun ini. Ini lebih cepat dari dugaan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang yakin The Fed baru akan menaikkan suku bunga acuan di semester II-2021. 

“Perkiraan saya di kuartal I-2022 dan di kuartal II-2022. Akan naik 2 kali, 25 basis poin (bps),” ujar Chatib dalam Economic Outlook 2022 Mandiri Sekuritas, Rabu (12/1) secara virtual. 

Chatib mengatakan, cepatnya kenaikan suku bunga kebijakan The Fed ini sejalan dengan adanya pent-up demand (permintaan yang tertahaan) di negara Paman Sam, yang tidak ditopang dengan persediaan yang memadai. 

Baca Juga: Bank-Bank Besar di AS Memperkirakan Bunga Acuan Naik Empat Kali Sepanjang Tahun Ini

Ini kemudian membuat tingkat inflasi di AS melonjak di atas 6% yoy atau bahkan yang tertinggi sejak dua atau tiga dekade terakhir. 

Nah, tentu saja ini akan menimbullkan risiko bagi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Risiko ini berupa kaburnya modal asing dari dalam negeri dan implikasinya melemahkan nilai tukar. 

Kabar baiknya, Chatib melihat, dampak kebijakan ini kepada Indonesia tidak akan sebesar dampak pada saat terjadi taper tantrum di 2013 lalu. 

Pasalnya, di kondisi sekarang, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berdaya, porsi asing di pasar keuangan Indonesia kini lebih kecil, dan BI masih memiliki kuda-kuda kuat untuk melakukan intervensi nilai tukar rupiah. 

Baca Juga: IMF Peringatkan Negara Berkembang Pasang Kuda-Kuda Hadapi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×