kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.975   48,00   0,27%
  • IDX 5.815   -128,30   -2,16%
  • KOMPAS100 752   -17,91   -2,33%
  • LQ45 584   -10,61   -1,78%
  • ISSI 199   -5,92   -2,89%
  • IDX30 326   -5,31   -1,60%
  • IDXHIDIV20 420   -4,72   -1,11%
  • IDX80 86   -1,95   -2,22%
  • IDXV30 115   -1,55   -1,33%
  • IDXQ30 107   -1,32   -1,22%

CERI Ragukan Alasan Pertamina soal Kelangkaan BBM Bali


Kamis, 15 Oktober 2026 / 10:12 WIB
Diperbarui Kamis, 15 Oktober 2026 / 10:17 WIB
CERI Ragukan Alasan Pertamina soal Kelangkaan BBM Bali
ILUSTRASI. BBM Subsidi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Havid Vebri | Editor: Havid Vebri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) meragukan penjelasan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri yang menyebut kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali disebabkan kapal tanker terlambat bersandar sekitar 12 jam.

CERI menduga gangguan pasokan tersebut berkaitan dengan persoalan pengadaan, pengendalian stok, hingga kemungkinan kegagalan pasok vendor.

Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman menilai, keterlambatan kapal selama 12 jam perlu dijelaskan lebih lanjut karena kelangkaan BBM dilaporkan terjadi di seluruh Bali dan sejumlah wilayah Jawa Timur.

Kedua wilayah tersebut berada dalam cakupan operasional Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus).

"Kalau hanya kapal tanker terlambat bersandar sekitar 12 jam, mengapa bisa terjadi kelangkaan BBM di seluruh Bali dan sebagian Jawa Timur?" ujar Yusri , Kamis (15/10/2026).

Menurut dia, Bali memiliki dua terminal BBM, yakni Fuel Terminal Sanggaran di Denpasar dan Terminal BBM Manggis di Karangasem. Karena itu, CERI mempertanyakan kecukupan stok operasional dan kesiapan distribusi BBM sebelum gangguan pasokan terjadi.

Yusri memperkirakan ketahanan stok operasional BBM idealnya berada pada kisaran 20–25 hari. Namun, CERI menduga stok BBM di Bali sebelum kelangkaan terjadi berada di bawah tujuh hari. Dugaan tersebut, menurutnya, perlu diuji melalui pembukaan data stok harian di kedua terminal.

Sorotan CERI menguat setelah Pertamina Patra Niaga mengumumkan tambahan pasokan 57,9 juta liter BBM untuk Bali pada 14–17 Oktober 2026.

Berdasarkan keterangan Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi yang dikutip ANTARA, tambahan tersebut terdiri atas 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax, yang disalurkan melalui Terminal BBM Manggis dan Sanggaran.

"Tambahan pasokan sebesar 57,9 juta liter itu justru menimbulkan pertanyaan tentang berapa sebenarnya stok BBM sebelum kelangkaan terjadi. Pertamina harus membuka data ketahanan stok harian di kedua terminal BBM tersebut," kata Yusri.

Baca Juga: Atasi Kelangkaan BBM di Bali, Pertamina Patra Niaga Datangkan MT Klasogun Pasok SPBU

CERI Duga Ada Masalah Pengadaan

Selain pengendalian stok, CERI menduga terdapat kemungkinan kegagalan vendor dalam memenuhi kewajiban pasokan sesuai kontrak dengan Pertamina Patra Niaga.

Yusri meminta pemeriksaan terhadap dokumen tender, kontrak pemasok, jadwal pengapalan, realisasi volume pengiriman, hingga laporan penerimaan BBM di terminal. Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui apakah gangguan pasokan dipicu keterlambatan pengiriman, kekurangan volume, atau lemahnya pengawasan kontrak.

CERI juga meminta penyebab gangguan di Bali dan Jawa Timur ditelusuri secara terpisah maupun dalam konteks rantai pasok regional. Dengan begitu, penyidik atau auditor dapat memastikan apakah kedua wilayah mengalami persoalan yang sama atau memiliki penyebab berbeda.

CERI turut mendesak pemeriksaan terhadap tiga pejabat Pertamina Patra Niaga sesuai tugas dan kewenangannya, yakni Direktur Utama Mars Ega Legowo Putra, Direktur Niaga Erwin Suryadi, serta Direktur Optimasi Hilir dan Distribusi Hari Purnomo.

Menurut Yusri, fungsi niaga perlu menjelaskan proses tender dan pelaksanaan kontrak pengadaan BBM. Sementara itu, fungsi optimasi hilir dan distribusi perlu menerangkan perencanaan stok, penerimaan pasokan, serta penyaluran BBM ke terminal dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

“Ketiga direksi tersebut harus dimintai pertanggungjawaban sesuai tugas dan kewenangannya. Jangan sampai persoalan pengadaan, kegagalan vendor, atau lemahnya pengendalian stok justru ditutupi dengan alasan cuaca dan keterlambatan kapal tanker,” ujarnya.

CERI meminta Kementerian ESDM, BPH Migas, BPI Danantara, serta jajaran pengawas Pertamina melakukan audit independen terhadap rantai pasok BBM di wilayah Jatimbalinus. Audit tersebut mencakup proses tender, pemenuhan kontrak pemasok, kondisi stok sebelum kelangkaan, hingga distribusi BBM ke SPBU.

Yusri menambahkan, Indonesia masih bergantung pada impor BBM dalam jumlah besar. Karena itu, perencanaan pengadaan dan ketahanan stok dinilai perlu diperkuat untuk mengurangi risiko gangguan pasokan.

CERI menegaskan, apabila audit menemukan kelalaian, kegagalan pasok, atau penyimpangan, pihak yang bertanggung jawab harus dikenai tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebelumnya, Dirut PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyebut kelangkaan BBM di Bali disebabkan kapal tanker terlambat bersandar sekitar 12 jam.

Menurut Simon, kapal tanker Pertamina mengalami kendala saat bongkar muat dan kesulitan untuk memasang jangkar.

Kondisi itu memakan waktu karena bongkar muat kapal tersebut akhirnya molor berjam-jam. Ia menyebutkan bongkar muat yang seharusnya dijadwalkan pukul 06.30 Wita menjadi molor hingga pukul 22.00 Wita.

Simon lantas menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Bali yang terdampak kelangkaan BBM dalam beberapa hari terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×