kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.964   37,00   0,21%
  • IDX 5.827   -116,19   -1,96%
  • KOMPAS100 755   -15,63   -2,03%
  • LQ45 586   -8,82   -1,48%
  • ISSI 200   -5,49   -2,67%
  • IDX30 327   -4,51   -1,36%
  • IDXHIDIV20 421   -3,62   -0,85%
  • IDX80 86   -1,69   -1,92%
  • IDXV30 115   -1,20   -1,03%
  • IDXQ30 107   -1,05   -0,97%

Utang Luar Negeri RI Naik Jadi US$ 459,3 Miliar Pada Agustus 2026


Kamis, 15 Oktober 2026 / 13:14 WIB
Utang Luar Negeri RI Naik Jadi US$ 459,3 Miliar Pada Agustus 2026
ILUSTRASI. Ilustrasi Opini - Membaca Arah Utang Indonesia (KONTAN/Indra Surya)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melaporkan, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar US$ 459,3 miliar, atau secara tahunan tumbuh sebesar 5,6% year on year (yoy).

Meski meningkat, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menilai, ULN Indoensia masihterjaga.

“Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah penurunan ULN swasta,” tutur Denny dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Adapun posisi ULN pemerintah pada Agustus 2026 tercatat US$ 220,9 miliar atau tumbuh sebesar 3,3% yoy. Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Baca Juga: Menhaj Dorong Penguatan Kemitraan Antarlembaga untuk Tingkatkan Layanan Haji

Denny menyebut, Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal.

Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN.

Ia membeberkan, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk pembiayaan berbagai sektor ekonomi, antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah), Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,7%), Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,4%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%).

Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen pada instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan strategi operasi moneter pro-market dalam mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah.

Selanjutnya, posisi ULN swasta pada Agustus 2026 tercatat sebesar US$ 195,6 miliar, atau terkontraksi sebesar 0,8% yoy. Perkembangan tersebut didorong oleh penurunan ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) dan lembaga keuangan (financial corporations) yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 0,8% (yoy) dan 0,6% (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian dengan pangsa mencapai 80,5% dari total ULN swasta.

Lebih lanjut, Denny menyampaikan, struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,9% pada Agustus 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang.

Sejalan dengan itu, posisi ULN pemerintah juga tetap sehat tecermin pada hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang. ULN swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang.

“Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan dan pengelolaan ULN sehingga optimal dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tandasnya.

Baca Juga: Wamenkeu Juda: Danantara Bisa Jadi Opsi Kelola Pembiayaan Pengembangan Ekosistem Haji

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×