Reporter: Havid Vebri | Editor: Havid Vebri
Selain pengendalian stok, CERI menduga terdapat kemungkinan kegagalan vendor dalam memenuhi kewajiban pasokan sesuai kontrak dengan Pertamina Patra Niaga.
Yusri meminta pemeriksaan terhadap dokumen tender, kontrak pemasok, jadwal pengapalan, realisasi volume pengiriman, hingga laporan penerimaan BBM di terminal. Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui apakah gangguan pasokan dipicu keterlambatan pengiriman, kekurangan volume, atau lemahnya pengawasan kontrak.
CERI juga meminta penyebab gangguan di Bali dan Jawa Timur ditelusuri secara terpisah maupun dalam konteks rantai pasok regional. Dengan begitu, penyidik atau auditor dapat memastikan apakah kedua wilayah mengalami persoalan yang sama atau memiliki penyebab berbeda.
CERI turut mendesak pemeriksaan terhadap tiga pejabat Pertamina Patra Niaga sesuai tugas dan kewenangannya, yakni Direktur Utama Mars Ega Legowo Putra, Direktur Niaga Erwin Suryadi, serta Direktur Optimasi Hilir dan Distribusi Hari Purnomo.
Menurut Yusri, fungsi niaga perlu menjelaskan proses tender dan pelaksanaan kontrak pengadaan BBM. Sementara itu, fungsi optimasi hilir dan distribusi perlu menerangkan perencanaan stok, penerimaan pasokan, serta penyaluran BBM ke terminal dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Ketiga direksi tersebut harus dimintai pertanggungjawaban sesuai tugas dan kewenangannya. Jangan sampai persoalan pengadaan, kegagalan vendor, atau lemahnya pengendalian stok justru ditutupi dengan alasan cuaca dan keterlambatan kapal tanker,” ujarnya.
CERI meminta Kementerian ESDM, BPH Migas, BPI Danantara, serta jajaran pengawas Pertamina melakukan audit independen terhadap rantai pasok BBM di wilayah Jatimbalinus. Audit tersebut mencakup proses tender, pemenuhan kontrak pemasok, kondisi stok sebelum kelangkaan, hingga distribusi BBM ke SPBU.
Yusri menambahkan, Indonesia masih bergantung pada impor BBM dalam jumlah besar. Karena itu, perencanaan pengadaan dan ketahanan stok dinilai perlu diperkuat untuk mengurangi risiko gangguan pasokan.
CERI menegaskan, apabila audit menemukan kelalaian, kegagalan pasok, atau penyimpangan, pihak yang bertanggung jawab harus dikenai tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebelumnya, Dirut PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyebut kelangkaan BBM di Bali disebabkan kapal tanker terlambat bersandar sekitar 12 jam.
Menurut Simon, kapal tanker Pertamina mengalami kendala saat bongkar muat dan kesulitan untuk memasang jangkar.
Kondisi itu memakan waktu karena bongkar muat kapal tersebut akhirnya molor berjam-jam. Ia menyebutkan bongkar muat yang seharusnya dijadwalkan pukul 06.30 Wita menjadi molor hingga pukul 22.00 Wita.
Simon lantas menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Bali yang terdampak kelangkaan BBM dalam beberapa hari terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














