kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.965   38,00   0,21%
  • IDX 5.814   -128,76   -2,17%
  • KOMPAS100 753   -17,76   -2,31%
  • LQ45 584   -10,54   -1,77%
  • ISSI 199   -6,06   -2,95%
  • IDX30 326   -5,06   -1,53%
  • IDXHIDIV20 420   -4,69   -1,11%
  • IDX80 86   -1,95   -2,21%
  • IDXV30 115   -1,66   -1,43%
  • IDXQ30 107   -1,34   -1,24%

Rupiah Nyaris Rp 18.000 Per Dolar AS, BI Ungkap Penyebabnya


Kamis, 15 Oktober 2026 / 10:39 WIB
Rupiah Nyaris Rp 18.000 Per Dolar AS, BI Ungkap Penyebabnya
ILUSTRASI. Penyebab utama pelemahan rupiah di antaranya data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah spot melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026) pagi. Pukul 10.34 WIB, rupiah spot ada di level Rp 17.940 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,21% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.903 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin G.Hutapea membeberkan penyebab utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Di antaranya, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed.

Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$ 105 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan. Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90%.

Baca Juga: CERI Ragukan Alasan Pertamina soal Kelangkaan BBM Bali

“Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” tutur Erwin dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Erwin menyebut, secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17%. Cadangan devisa tercatat terjaga di level US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026.

Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel, Beban Subsidi Energi Berpotensi Membengkak

Sejalan dengan itu, BI juga terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Selain itu, BI mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×