Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali melemah hingga menembus level psikologis Rp 17.500 per dollar AS pada pertengahan Mei 2026.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga berbagai barang, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.
Pelemahan rupiah tersebut terjadi di tengah tekanan eksternal, termasuk tingginya harga minyak dunia dan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Di sisi lain, sejumlah harga komoditas global juga masih berada di atas asumsi yang digunakan dalam APBN 2026.
Kondisi ini membuat pelaku industri dan masyarakat perlu mencermati dampaknya terhadap biaya produksi dan harga barang di pasaran.
Menurut pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Makassar, Prof. Hamid Paddu, pelemahan rupiah memiliki dampak langsung terhadap harga bahan baku impor, termasuk sektor energi seperti bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Baca Juga: Guru Non-ASN di Sekolah Negeri Dapat Kepastian Penugasan lewat SE Mendikdasmen 7/2026
Rupiah melemah, biaya impor ikut naik
Hamid menjelaskan, Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak sejak 2004, dengan kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 650 ribu barel per hari.
Artinya, lebih dari separuh kebutuhan energi nasional masih dipenuhi melalui impor.
“Impor tentu dibeli dengan nilai mata uang valuta asing, dalam hal ini dollar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” ujar Hamid, sebagaimana diberitakan Antara, Sabtu (16/5/2026).
Ia menambahkan, tekanan harga tidak hanya berasal dari kurs rupiah, tetapi juga dari kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada di sekitar 105 dollar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dollar AS per barel.
BBM dan barang impor berpotensi terdampak
Menurut Hamid, kombinasi antara pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak global membuat beban impor energi meningkat signifikan.
“Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama dari harga minyak dunia, kemudian dari kurs,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh badan usaha, termasuk Pertamina, mengikuti mekanisme pasar.
Selain sektor energi, barang-barang konsumsi yang bergantung pada bahan baku impor juga berpotensi mengalami tekanan harga jika tren pelemahan rupiah berlanjut.
Tonton: Rupiah Tembus Rp17.597 per Dolar AS! Kenapa Melemah? Ini Penyebab dan Dampaknya ke Masyarakat
Penyesuaian harga dinilai wajar dalam mekanisme pasar
Hamid menyebut, penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan hal yang wajar dalam sistem pasar, karena mengikuti perubahan biaya produksi dan impor.
Ia juga menilai jika badan usaha tidak melakukan penyesuaian harga, maka akan berdampak pada kondisi keuangan perusahaan, terutama di tengah tingginya biaya pengadaan energi.
“Sejak lima tahun terakhir, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, harga BBM juga menyesuaikan,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menilai tingkat pemahaman masyarakat terhadap mekanisme harga energi sekarang sudah semakin baik, sehingga perubahan harga BBM nonsubsidi relatif tidak menimbulkan gejolak.
“Makanya sekian tahun tidak pernah ada gejolak kalau harga BBM nonsubsidi berubah,” katanya.
Tabel Barang yang Berpotensi Naik Harga Saat Rupiah Melemah
| Jenis Barang | Alasan Berpotensi Naik |
|---|---|
| BBM nonsubsidi | Dipengaruhi kurs dolar dan harga minyak dunia |
| Produk energi impor | Indonesia masih bergantung pada impor |
| Barang konsumsi impor | Dibeli dengan dolar, harga ikut naik |
| Barang berbahan baku impor | Biaya produksi meningkat |
| Produk industri berbasis energi | Biaya energi naik memicu kenaikan harga |
Tabel Ringkasan Data Penting dalam Artikel
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Kurs rupiah (pertengahan Mei 2026) | Menembus Rp 17.500/US$ |
| Kurs rupiah (15 Mei 2026) | Sekitar Rp 17.600/US$ |
| Kebutuhan BBM nasional | 1,6 juta barel/hari |
| Produksi minyak domestik | 650 ribu barel/hari |
| Harga minyak dunia | US$ 105/barel |
| Asumsi harga minyak APBN 2026 | US$ 70/barel |
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/17/123000365/rupiah-melemah-barang-apa-saja-yang-berpotensi-naik-harga-ini-kata-pakar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













