Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, langkah Bank Indonesia (BI) mengurangi intervensi di pasar spot menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga posisi cadangan devisa.
Untuk diketahui, posisi cadangan devisa Indonesia per September 2026 tercatat sebesar US$ 146,3 miliar, atau setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Namun menurut David, stabilnya cadangan devisa juga didukung oleh faktor lain, salah satunya surplus perdagangan Indonesia yang belakangan kembali menguat, yakni sebesar US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026, dari sebelumnya hanya US$ 121,9 juta pada Juli.
Baca Juga: Subsidi Listrik Tembus Rp 200 T, Bahlil Sebut PLTS 100 GWp Mampu Hemat APBN Rp 73 T
"Langkah BI untuk mengurangi intervensi di pasar spot menjadi salah satu faktor yang menjaga cadangan devisa, ditambah faktor lain seperti surplus dagang yang belakangan kembali menguat," ujar David kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).
Meski demikian, David menilai BI masih membutuhkan instrumen lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Pasalnya, strategi BI melalui fasilitas lindung nilai atau hedging swap dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dinilai belum cukup untuk menahan arus keluar modal asing. Kondisi tersebut membuat rupiah masih berada dalam tekanan.
Menurut David, salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah meningkatkan rate yield curve untuk membuat aset-aset berdenominasi rupiah menjadi lebih atraktif bagi investor.
Hal ini menjadi penting mengingat yield spread Indonesia saat ini telah berada pada level terendah sepanjang sejarah atau record low.
"Menaikkan rate yield curve dapat membuat aset rupiah lebih atraktif," ujar David.
Baca Juga: Cadangan Devisa September US$ 146,3 Miliar, BI Dinilai Lebih Hemat Dolar
Dengan demikian, peningkatan imbal hasil aset rupiah dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat daya tarik aset domestik sekaligus membantu menahan tekanan arus modal keluar.
David bilang, strategi stabilisasi rupiah perlu dilakukan melalui kombinasi berbagai instrumen, tidak hanya mengandalkan intervensi di pasar spot maupun fasilitas lindung nilai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














