Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Posisi cadangan devisa Indonesia dinilai masih berada di bawah tekanan pada kuartal II-2026. Meski demikian, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, kondisi tersebut dinilai belum mengarah pada situasi yang mengkhawatirkan karena level devisa masih jauh di atas standar kecukupan internasional.
Sebagai informasi, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tercatat sebesar US$ 145,3 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, lebih tinggi dibandingkan ukuran kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Menurutnya, penurunan tipis cadangan devisa pada Juli lebih mencerminkan penggunaan bantalan devisa oleh Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah daripada sinyal berkurangnya kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan devisa.
Baca Juga: Danantara Investasi Rp 44,75 Triliun ke JBS, Perusahaan Daging Asal Brasil
"Kondisi ini lebih tepat dibaca sebagai penggunaan bantalan devisa sesuai fungsinya untuk meredam gejolak rupiah, bukan sebagai tanda Indonesia mulai kekurangan devisa," tutur Josua kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).
Josua memperkirakan cadangan devisa pada akhir 2026 berada di kisaran US$143 miliar hingga US$147 miliar, turun dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar US$156,47 miliar.
Dengan posisi saat ini sebesar US$ 145,3 miliar, ruang pergerakan hingga akhir tahun dinilai relatif terbatas. Menurutnya, cadangan devisa masih berpotensi naik sekitar US$ 1 miliar hingga US$2 miliar, namun juga dapat turun sekitar US$ 2 miliar.
Artinya, skenario dasar yang diperkirakan bukan penurunan terus-menerus, melainkan pergerakan di sekitar level pertengahan US$ 140 miliar dengan kecenderungan tekanan ke bawah.
Ia menjelaskan peluang cadangan devisa menuju batas atas proyeksi US$ 147 miliar terbuka apabila ketegangan geopolitik mereda, harga minyak turun, rupiah lebih stabil sehingga kebutuhan intervensi BI berkurang, arus modal asing kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, serta penerimaan devisa dari ekspor maupun penerbitan surat utang global meningkat.
Sebaliknya, cadangan devisa berpotensi mendekati bahkan menembus batas bawah US$ 143 miliar apabila rupiah kembali tertekan sehingga BI harus melakukan intervensi besar, harga minyak melonjak, terjadi arus keluar modal asing, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah meningkat.
Defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar
Josua menilai risiko yang lebih penting dibandingkan penurunan cadangan devisa sebesar US$ 0,3 miliar pada Juli adalah perubahan struktur perdagangan Indonesia.
Baca Juga: BGN Pecat 66 Kepala Dapur MBG Secara Tak Hormat, Siapkan SOP Baru & Buka Kanal Aduan
Selama Januari-Juni 2026, ekspor hanya tumbuh 4,13%, sedangkan impor melonjak 18,69%. Bahkan pada Juni 2026, nilai impor mencapai US$25,91 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspor sebesar US$25,46 miliar.
Meski demikian, kenaikan impor tersebut tidak seluruhnya dipicu oleh konsumsi. Impor bahan baku dan penolong tumbuh 18,38%, sementara impor barang modal meningkat 20,50% sepanjang semester pertama 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya mencerminkan aktivitas produksi dan investasi yang meningkat. Namun dalam jangka pendek, peningkatan impor tetap membutuhkan devisa dalam jumlah besar.
"Jika peningkatan impor tersebut tidak kemudian menghasilkan tambahan produksi dan ekspor, tekanan terhadap transaksi berjalan dan cadangan devisa akan meningkat," katanya.
Lebih lanjut, ia memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia melebar menjadi sekitar 1%–2% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dari hanya 0,11% PDB pada 2025.
Pelebaran tersebut diperkirakan dipicu oleh permintaan domestik yang kuat sehingga mendorong impor, sementara pertumbuhan ekspor kembali normal setelah lonjakan pada 2025, ditambah pelemahan permintaan global terutama dari Tiongkok, perang dagang, dan konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan dilema kebijakan. Upaya pemerintah mempercepat pertumbuhan melalui peningkatan investasi dan konsumsi memang positif, namun apabila tambahan permintaan lebih banyak dipenuhi barang impor, kebutuhan devisa juga akan meningkat.
Baca Juga: Bank Dunia Tunjuk Sri Mulyani Pimpin Penggalangan Dana IDA22 Global
Karena itu, percepatan pertumbuhan ekonomi perlu dibarengi peningkatan kapasitas produksi dalam negeri dan ekspor agar tidak terus menimbulkan tekanan terhadap transaksi berjalan maupun cadangan devisa.
Selain perdagangan, ia juga menilai prospek cadangan devisa sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menarik kembali arus modal asing.
Arus investasi portofolio dinilai masih rentan akibat ketidakpastian global maupun domestik, termasuk peninjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI pada November serta perubahan outlook Moody's dan Fitch menjadi negatif yang meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset Indonesia.
Apabila investor asing kembali membeli SBN, saham, maupun instrumen rupiah dengan membawa devisa dari luar negeri, pasokan valuta asing akan meningkat sehingga BI tidak perlu terlalu banyak menggunakan cadangan devisanya.
Sebaliknya, ketika investor keluar dari pasar domestik dan menukar rupiah menjadi dolar AS, BI berpotensi menghadapi tekanan ganda berupa berkurangnya arus devisa masuk sekaligus meningkatnya kebutuhan intervensi di pasar valas.
Oleh sebab itu, kestabilan cadangan devisa dinilai tidak dapat dipisahkan dari stabilitas nilai tukar rupiah.
Josua memperkirakan rupiah hingga akhir 2026 masih bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS sehingga BI kemungkinan tetap menggunakan sebagian cadangan devisa untuk meredam volatilitas yang berlebihan.
Di sisi eksternal, arah harga minyak, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, konflik Timur Tengah, serta perlambatan ekonomi Tiongkok diperkirakan menjadi faktor utama yang memengaruhi cadangan devisa Indonesia.
Baca Juga: Prabowo Sebut Harga BBM Subsidi Masih Terjaga di Tengah Tekanan Energi Global
Menurutnya, pemerintah juga perlu memperkuat sumber devisa yang lebih permanen melalui peningkatan devisa hasil ekspor yang bertahan lebih lama di dalam negeri, mendorong investasi langsung berorientasi ekspor, mengurangi ketergantungan impor energi, serta mengembangkan industri substitusi impor.
Selain itu, kredibilitas fiskal perlu terus dijaga agar kepercayaan investor tetap kuat dan arus modal asing tetap terjaga.
"Dalam jangka menengah, cadangan devisa yang sehat seharusnya semakin banyak dibentuk oleh surplus perdagangan bernilai tambah, investasi langsung, dan devisa ekspor, bukan terlalu bergantung pada penerbitan utang valuta asing dan dana portofolio jangka pendek," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
