kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.938   -104,00   -0,58%
  • IDX 6.363   43,40   0,69%
  • KOMPAS100 838   6,34   0,76%
  • LQ45 637   1,54   0,24%
  • ISSI 220   2,08   0,96%
  • IDX30 358   0,56   0,16%
  • IDXHIDIV20 437   -1,63   -0,37%
  • IDX80 96   0,58   0,61%
  • IDXV30 120   -0,06   -0,05%
  • IDXQ30 114   0,20   0,17%

BPS Beberkan Penyebab Sektor Pertambangan Terkontraksi 1,64% pada Kuartal II-2026


Rabu, 05 Agustus 2026 / 12:03 WIB
BPS Beberkan Penyebab Sektor Pertambangan Terkontraksi 1,64% pada Kuartal II-2026
ILUSTRASI. Batubara (Dok/PTBA)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sektor pertambangan menjadi satu-satunya lapangan usaha yang mencatatkan kontraksi pada kuartal II-2026, di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY).

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud mengatakan, sektor pertambangan dan penggalian terkontraksi 1,64% YoY. Padahal, sektor ini merupakan penyumbang terbesar kelima terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan kontribusi 8,87%.

Baca Juga: PPATK Catat Deposit Judi Bola Piala Dunia Tembus RP 1,02 Triliun

Menurut Edy, kontraksi tersebut terutama dipicu oleh penurunan kinerja subsektor pertambangan bijih logam yang menyusut 9,42% YoY.

Pelemahan ini terjadi akibat turunnya produksi sejumlah komoditas tambang, seperti bauksit, bijih timah, dan bijih nikel.

"Selain itu juga karena belum pulihnya operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua Tengah pasca insiden longsor pada Desember 2025," ujar Edy dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026).

Kontraksi juga terjadi pada subsektor pertambangan batu bara dan lignit yang turun 1,41% YoY.

Menurut BPS, kondisi ini dipengaruhi oleh penataan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan sekaligus menopang harga batu bara di pasar internasional.

Baca Juga: BPS Mencatat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Capai 5,29%

Sementara itu, subsektor pertambangan minyak, gas, dan panas bumi menyusut 2,15% YoY. Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya produktivitas sumur migas secara alamiah serta masih terbatasnya penemuan cadangan minyak dan gas baru.

Meski sektor pertambangan mengalami kontraksi, hampir seluruh lapangan usaha lainnya masih mencatatkan pertumbuhan positif.

Sektor industri pengolahan tumbuh 4,52% YoY, sektor pertanian naik 3,80% YoY, dan sektor konstruksi meningkat 6,68% YoY.

"Total kontribusi lima lapangan usaha tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 63,73% dari total PDB Indonesia," kata Edy.

Adapun lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi pada kuartal II-2026 adalah sektor pengadaan listrik dan gas yang tumbuh 10,81% YoY. Kenaikan ini ditopang oleh meningkatnya penjualan listrik di hampir seluruh kelompok pelanggan, terutama rumah tangga, bisnis, dan industri.

Di posisi berikutnya, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60% YoY, didorong oleh meningkatnya tingkat hunian hotel serta kinerja jasa boga yang mendapat dukungan dari semakin luasnya implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca Juga: Pendaftaran Peserta Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Dibuka, Cek Syaratnya

Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan 6,97% YoY, seiring meningkatnya pemanfaatan layanan telekomunikasi di berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, dan perdagangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×