Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) masih optimis target investasi Indonesia yang sebesar Rp 886 triliun di tahun ini akan tetap tercapai, meski di tengah masifnya penyebaran virus corona.
Menurut Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, ini disebabkan oleh BKPM yang akan tetap sigap dan gencar menarik negara-negara lain seperti Eropa, Timur Tengah, Korea, Jepang, dan Singapura untuk berinvestasi di Indonesia. Tak hanya itu, Bahlil pun menyebut akan tetap berupaya dalam menggaet investor domestik.
Baca Juga: Rekomendasi analis untuk saham emiten mamin yang tengah diselimuti sentimen negatif
Meski begitu, Bahlil tetap mengaku bahwa ada potensi penurunan investasi dari negara China di semester I tahun ini. Apalagi bila melihat realisasi investasi di sepanjang tahun lalu, negara tirai bambu ini menjadi negara terbesar kedua yang berinvestasi di Indonesia dengan nilai US$ 4,74 miliar dari 2.130 proyek.
Senada dengan Bahlil, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy juga optimis bahwa target investasi tahun ini masih bisa tercapai. Apalagi dengan melihat perkembangan kondisi terkini, Indonesia bisa kejar target di semester II tahun ini.
"Memang virus Corona memang masih terjadi di China, tetapi kalau melihat trennya justru menurun. Jadi ada peluang investasi di semester II dengan semakin membaiknya penanganan virus ini," kata Yusuf kepada Kontan.co.id, Minggu (8/3).
Baca Juga: Industri smelter di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan berat, apa saja?
Sementara untuk rencana pemerintah untuk fokus menggandeng investor dari negara-negara selain China, Yusuf memandang bahwa ini merupakan hal yang positif. Apalagi, dengan melihat negara-negara yang disasar BKPM merupakan negara yang relatif lebih maju dan memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik dalam menangkan virus ini.
Di luar negara-negara target BKPM, Yusuf juga memandang adanya potensi investasi di negara-negara global. Ini disebabkan oleh sudah banyak negara yang langsung cepat dalam menghadapi ketidakpastian global dengan mempersiapkan paket ekonomi baik dari sisi fiskal maupun moneter untuk menjaga kondisi ekonominya.
Baca Juga: Korban meninggal akibat virus corona di Italia mendekati 200 orang
Akan tetapi, Yusuf juga melihat bahwa hal terpenting dalam menarik modal asing maupun domestik adalah dengan Indonesia membenahi keadaan dalam negeri terlebih dahulu karena menurutnya, masih banyak tantangan dari dalam negeri yang belum terselesaikan dengan tuntas.
"Banyak hal, seperti regulasi yang masih tumpang tindih, koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang tidak jalan, harga logistik yang tinggi, hingga masalah hubungan industrial antarburuh dan pelaku industri," tambah Yusuf.
Selain memperbaiki hal itu, kehadiran Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law juga dipandang sebagai angin segar bagi prospek penanaman modal di negeri ini.
Baca Juga: Cegah penyebaran virus corona, kapal pesiar Viking Sun tidak boleh berlabuh di Bali
Menurutnya, bila RUU yang sedang digodok oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini diimplementasi, maka bisa membantu pencapaian target investasi.
Akan tetapi, ia juga menambahkan catatan bahwa RUU sapu jagat ini juga perlu diterima oleh semua pihak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













