Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) akan terus memperkuat kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Perry Warjiyo dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026) menyebut, penguatan kebijakan dilakukan melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, hingga pendalaman pasar keuangan.
“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran didukung oleh pendalaman pasar uang untuk memastikan stabilitas dan eksternal ekonomi yang kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” ujar Perry di KSSK, Kamis (7/5/2026).
Baca Juga: Pemerintah Bebaskan Pajak Merger dan Akuisisi BUMN hingga 2029
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75% sepanjang Januari hingga April 2026. Kebijakan tersebut ditempuh agar stabilitas nilai tukar tetap terjaga dan inflasi sesuai sasaran.
Selain mempertahankan BI-Rate, BI juga melanjutkan berbagai langkah stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
Perry mengatakan, BI juga memperkuat struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing ke pasar domestik.
Hasilnya, pada kuartal II-2026 hingga 3 Mei 2026 tercatat capital inflow sebesar US$ 3,3 miliar, terutama masuk ke instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut berbalik dibandingkan triwulan I-2026 yang mencatat capital outflow sebesar US$ 1,7 miliar.
Di sisi lain, BI juga aktif membeli SBN di pasar sekunder sebagai bagian dari sinergi kebijakan moneter dan fiskal. Hingga 4 Mei 2026, pembelian SBN oleh BI tercatat mencapai Rp 123,8 triliun.
“Juga menjaga kecukupan likuiditas di pasar antara lain dengan menjaga pertumbuhan uang primer double digit di atas 10% dan bahkan terakhir pertumbuhannya 14,1%,” jelas Perry.
Selain stabilisasi pasar keuangan, BI juga terus memperkuat pendalaman pasar valas domestik. Salah satunya dengan menurunkan threshold pembelian dolar AS yang wajib menggunakan underlying transaksi dari US$ 50 juta menjadi US$ 25 juta per orang per bulan.
Bank sentral juga mendorong diversifikasi penggunaan mata uang dalam perdagangan internasional melalui penguatan transaksi yuan-rupiah yang telah terhubung dengan pasar Hong Kong dan China.
Baca Juga: Amran Sulaiman Jawab Kritik Harga Beras Mahal di Tengah Stok Melimpah
Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah gejolak global. Hal itu tercermin dari surplus neraca perdagangan Januari-Maret 2026 sebesar US$ 5,5 miliar yang terutama ditopang surplus nonmigas.
Selain itu, inflasi Indonesia pada April 2026 tetap rendah sebesar 2,42% secara tahunan (year on year/yoy), masih berada dalam target BI sebesar 2,5% plus minus 1%.
Perry menegaskan Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan pemerintah mengenai fiskal-moneter maupun juga koordinasi dengan KSSK.
"Indonesia fundamentalnya kuat optimisme bahwa akan lebih baik dan kita terus bersinergi erat meyakinkan Indonesia berdaya tahan kuat dan terus optimistis untuk ekonomi kita akan terus membaik ke depan," ujar Perry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













