kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rupiah Undervalued, BI Siapkan 7 Strategi untuk Jaga Rupiah


Rabu, 06 Mei 2026 / 10:20 WIB
Rupiah Undervalued, BI Siapkan 7 Strategi untuk Jaga Rupiah
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah dan Bank Indonesia terus bersinergi untuk menjaga rupiah agar tak terus melemah terlalu dalam. 

Maklum, saat ini nilai tukar rupiah terus melemah dan bahkan sudah di bawah nilai wajarnya.

Asal tahu saja, pada Selasa (5/5/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,17% secara harian ke Rp 17.424 per dolar AS. Ini merupakan level penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, secara fundamental nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya, dan ke depan diyakini akan kembali stabil bahkan menguat.

Baca Juga: Cegah Spekulasi, BI Akan Batasi Pembelian Dolar AS Jadi US$ 25.000

“Nilai tukar sekarang itu undervalued. Ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” jelas Perry.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang justru masih kuat. 

Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026, inflasi yang terkendali, pertumbuhan kredit yang solid, serta cadangan devisa yang tetap kuat.

“Fundamental kita itu kuat. Pertumbuhan tinggi, inflasi rendah, kredit tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Ini menunjukkan mestinya rupiah stabil dan cenderung menguat,” imbuhnya.

Perry menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek lebih disebabkan oleh faktor eksternal dan musiman.

Dari sisi global, tekanan datang dari tingginya harga minyak dunia serta kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. 

Ia mencatat, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 4,47%, yang turut memperkuat dolar AS dan mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Terjadi pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia,” katanya.

Baca Juga: Rupiah Loyo, Ini 7 Jurus BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar

Selain itu, faktor musiman juga turut menekan rupiah, terutama pada periode April hingga Juni. Pada periode ini, permintaan valas meningkat seiring kebutuhan pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan devisa untuk keberangkatan jemaah haji.

Meski demikian, Bank Indonesia tetap optimistis tekanan tersebut bersifat sementara.

“Rupiah adalah undervalued dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” tegas Perry.

Tujuh Strategi Jaga Rupiah

Perry bilang, BI telah bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto untuk memaparkan sejumlah strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.  

Sejumlah strategi yang akan dijalankan BI untuk menjaga rupiah adalah, pertama, memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri. 

Menurut Perry, Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta Non Deliverable Forward (NDF) di sejumlah pusat keuangan global.

“Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah. Cadangan devisa kami lebih dari cukup,” jelasnya.

Kedua, Bank Indonesia bersama pemerintah mendorong aliran modal asing masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk mengimbangi arus keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.

Ketiga, BI akan melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder sebagai bagian dari sinergi dengan kebijakan fiskal. Hingga saat ini, realisasi pembelian telah mencapai Rp 123,1 triliun secara year to date.

Baca Juga: Ini Tujuh Jurus BI Jaga Rupiah, Dari Intervensi hingga Jaga Likuiditas Bank

Keempat, penguatan likuiditas perbankan dan pasar uang terus dilakukan. Perry menyebut, kondisi likuiditas masih longgar yang tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1%.

Kelima, BI memperketat pembelian valas di dalam negeri. Batas pembelian dolar tanpa underlying diturunkan dari US$ 100.000 menjadi US$ 50.000 per orang per bulan, dan akan kembali diturunkan menjadi US$ 25.000.

“Pembelian dolar di atas US$ 25.000 nantinya harus disertai underlying,” tegasnya.

Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional, termasuk penguatan pasar yuan dan rupiah guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Langkah keenam adalah memperkuat intervensi di pasar offshore melalui instrumen Offshore NDF, sekaligus membuka ruang bagi bank domestik untuk berpartisipasi agar pasokan valas meningkat.

Terakhir, BI meningkatkan pengawasan terhadap perbankan dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian valas tinggi. Langkah ini dilakukan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna menjaga stabilitas sistem keuangan.

Perry menyebut telah mendapat dukungan Presiden atas tujuh langkah kebijakan yang akan ditempuh Bank Indonesia untuk memperkuat rupiah di tengah tekanan global.

“Kami melapor kepada Bapak Presiden dan beliau merestui serta memberikan penguatan terhadap tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat dan stabil ke depan,” ujar Perry di Istana, Selasa (5/5/2026).

Dengan strategi tersebut, Bank Indonesia optimistis stabilitas rupiah dapat tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih bergejolak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×