kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

BI pangkas proyeksi pertumbuhan 2016 jadi 5%-5,4%


Kamis, 19 Mei 2016 / 20:25 WIB
BI pangkas proyeksi pertumbuhan 2016 jadi 5%-5,4%


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini sebesar 4,92% membuat Bank Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Otoritas moneter memproyeksi, pertumbuhan ekonomi 2016 sebesar 5%-5,4%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 5,2%-5,6%.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pihaknya melihat kondisi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini lebih lemah dibanding sebelumnya. Menurut Agus, pelemahan tersebut tak hanya bersumber dari negara maju, melainkan juga dari pertumbuhan negara berkembang yang terkoreksi tajam.

Tak hanya itu, BI juga melihat harga minyak masih akan rendah walaupun sudah ada sedikit perbaikan.

Namun demikian dari sisi domestik, pihaknya melihat bahwa pertumbuhan konsumsi dan investasi belum cukup kuat meski telah diberikan stimulus moneter dan fiskal.

"Kami tetapkan perlu dilakukan peneyesuaian karena ekonomi dunia melemah berdampak pada ekspor impor Indonesia dan kondisi domestik," kata Agus dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (19/5).

Saat ini, BI juga akan mengikuti rencana pembahasan mengenai Tax Amnesty antara pemerintah dan DPR. Tak hanya itu, BI juga masih mengikuti rencana pemeirntah terkait dengan revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016.

Nantinya, BI akan mengikuti diskusi pembahasan kedua Undang-Undang tersebut sehingga memiliki gambaran yang lebih tajam mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesai tahun ini hingga jangka menengah.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, stimulus fiskal melalui peningkatan investasi di sektor publik, yaitu pembangunan infrastruktur masih belum mampu mendorong investasi swasta. Sementara itu, dari sisi permintaan konsumsi belum naik karena permintaan global yang juga masih lemah.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung sebelumnya mengatakan, akselerasi pengeluaran pemerintah yang dimulai sejak kuartal ketiga tahun lalu belum menggairahkan investasi swasta. Menurutnya, butuh waktu transimisi dari stimulus tersebut sekitar lima kuartal.

"Jadi kira-kira triwulan ketiga swastanya sudah mulai," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×