Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mirae Asset Sekuritas memproyeksi, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar hari ini (18/6/2026).
Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, BI akan mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah di level 5,50%. Meskipun konsensus pasar masih cenderung mengharapkan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps).
“Perbedaan utama antara pandangan kami dan konsensus terletak pada penilaian seberapa mendesak respons kebijakan dari BI dalam jangka waktu yang sangat dekat,” ujar Rully dalam risetnya, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga: Kejar Target 19 Juta Wisman di 2027, Kemenpar Minta Tambahan Anggaran Rp 1,99 Triliun
Menurut Rully, BI akan terus menekankan komitmen stabilitasnya, khususnya terkait inflasi dan rupiah, tetapi penekanan tersebut tidak perlu diterjemahkan ke dalam kenaikan suku bunga pada rapat ini. Dengan kata lain, bias kebijakan tetap ketat, tetapi keputusan bulan ini lebih baik diinterpretasikan sebagai mempertahankan suku bunga acuan dengan nada yang masih hawkish.
Pandangan ini terutama didasarkan pada perbaikan kondisi pasar selama beberapa hari terakhir. Rupiah telah menguat cukup signifikan sejak awal pekan, disertai dengan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah (SBN) dan obligasi BI (SRBI), yang menunjukkan bahwa tekanan eksternal mulai mereda.
“Dalam lingkungan ini, kami percaya BI memiliki ruang untuk berhenti sejenak sambil menilai apakah perbaikan rupiah berkelanjutan,” kata Rully.
Oleh karena itu, berbeda dengan konsensus yang masih menganggap kenaikan suku bunga sebagai skenario dasar, Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa BI akan lebih memilih untuk menjaga kredibilitasnya melalui komunikasi kebijakan yang tegas daripada langkah pengetatan langsung lainnya.
Rully mengatakan, secara eksternal jalur kebijakan The Fed tetap menjadi faktor kunci yang membuat BI tetap berhati-hati. Pada pertemuan terbarunya, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan di kisaran 3,50%–3,75%, tetapi menegaskan kembali komitmen yang kuat untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
Baca Juga: Aset BUMD Tembus Rp 1.240 Triliun, Namun 300 Perusahaan Daerah Masih Merugi
Nada kebijakan tetap berada di sisi yang agresif, terutama karena kondisi pasar tenaga kerja AS belum menunjukkan pelemahan yang signifikan, dengan tingkat pengangguran masih di 4,3%, sementara inflasi PCE inti sebesar 3,3%.
“Ini menyiratkan bahwa pintu untuk potensi kenaikan suku bunga Fed pada akhir tahun 2026 tetap terbuka, yang berarti BI masih perlu mempertahankan sikap hati-hati terhadap stabilitas nilai tukar,” pungkas Rully.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













