Reporter: Adi Wikanto, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Mata uang rupiah kembali terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Kala rupiah tak berdaya, masyarakat semakin gemar menyimpan valuta asing, terutama dollar AS.
Nilai tukar rupiah semakin tertekan menjelang akhir bulan. Kamis (30/7), kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 38 atau 0,21% menjadi Rp 18.111 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kurs rupiah Jisdor justru menguat Rp 9 atau 0,05% menjadi Rp 18.078 per dolar AS. Penguatan tipis ini belum mampu membalikkan pelemahan rupiah yang terjadi sepekan terakhir.
Pelemahan kurs rupiah tertahan setelah Federal Reserve AS menahan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR). Meski FFR tetap, hasil pemungutan suara para pejabat The Fed pecah. Hal ini menandakan peningkatan keyakinan di antara pejabat bank sentral bahwa suku bunga yang lebih tinggi mulai diperlukan untuk menahan inflasi.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memperkuat upaya untuk stabilisasi rupiah setelah Gubernur BI Perry Warjiyo mengundurkan diri di awal pekan. Pasar keuangan akan tetap mencermati arah kebijakan BI selanjutnya.
Baca Juga: Kementerian PU Catat IKM 89,76 pada 2025, Pengaduan Masih Jadi Evaluasi
Rekening simpanan dollar meningkat
Dilansir dari Kompas.com, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat lonjakan signifikan jumlah rekening simpanan berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) pada Juni 2026. Peningkatan ini melanjutkan tren kenaikan yang telah terlihat sejak Mei 2026, didorong oleh masuknya devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) ke sistem perbankan nasional.
Berdasarkan data LPS, jumlah rekening simpanan dalam mata uang dollar AS mencapai 16,53 juta rekening hingga Juni 2026. Angka tersebut setara 2,4% dari total rekening simpanan nasional.
Secara bulanan, jumlah rekening valas tersebut melonjak 85,3% dibandingkan Mei 2026. Sementara secara tahunan, kenaikannya mencapai 185,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tak hanya dari sisi jumlah rekening, nilai simpanan dalam mata uang asing juga terus meningkat. Hingga Juni 2026, total simpanan valas tercatat mencapai Rp 1.741,46 triliun, naik 1,6% dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 19,5% secara tahunan.
Sebaliknya, simpanan dalam mata uang rupiah menunjukkan tren yang lebih moderat. Jumlah rekening rupiah mencapai 680,42 juta rekening, meningkat 1,1% secara bulanan dan 7,8% dibandingkan Juni 2025.
Sementara itu, nilai simpanan rupiah tercatat sebesar Rp 8.567,87 triliun. Nilai tersebut turun 0,5% dibandingkan Mei 2026, tetapi masih tumbuh 8,2% secara tahunan.
Secara keseluruhan, total simpanan masyarakat di perbankan hingga Juni 2026 mencapai Rp 10.309,32 triliun. Nilainya turun tipis 0,2% secara bulanan, namun masih meningkat 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tonton: IHSG Menguat Hari ini, Berikut 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi (30 Juli 2026).
Tren Kenaikan Sudah Terlihat Sejak Mei
Kenaikan rekening simpanan dollar AS sebenarnya sudah mulai terlihat pada Mei 2026. Saat itu, jumlah rekening valas mencapai 8,92 juta rekening, meningkat 5,5% dibandingkan April 2026 dan melonjak 58,2% secara tahunan.
Nilai simpanan valas pada Mei juga mencapai Rp 1.714,76 triliun, atau tumbuh 7,1% secara bulanan dan 18,7% dibandingkan Mei 2025.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hery Gunardi, menilai peningkatan simpanan dollar AS tidak terlepas dari implementasi kebijakan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di dalam negeri.
Menurut dia, kebijakan tersebut membuat dana hasil ekspor kembali masuk ke sistem perbankan nasional sehingga mendorong kenaikan baik jumlah rekening maupun nominal simpanan dalam mata uang dollar AS.
> "Ya memang ada kan, karena ada DHE. DHE yang masuk di Bank Himbara cukup tinggi. Jadi pasti meningkat kalau DHE hasil ekspornya balik lagi, dan hasil ekspor masuk, pasti meningkat," ujar Hery saat ditemui di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Masuknya dana DHE SDA ke perbankan dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan simpanan valas sepanjang paruh pertama 2026. Selain memperbesar dana pihak ketiga (DPK) dalam mata uang asing, kebijakan tersebut juga memperkuat likuiditas perbankan di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan sektor ekspor.
Lonjakan jumlah rekening dollar AS pada Juni menunjukkan kebijakan retensi DHE SDA mulai memberikan dampak nyata terhadap penghimpunan dana valas di perbankan nasional. Jika tren ini berlanjut, likuiditas valuta asing perbankan diperkirakan akan semakin kuat pada paruh kedua 2026.
Sebagian artikel telah tayang di: https://money.kompas.com/read/2026/07/30/133541826/simpanan-dollar-as-terus-naik-dari-mei-hingga-juni-2026-ada-apa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














