kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.589   36,00   0,21%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

BI: Awas, korporasi berutang saat ini


Rabu, 10 Desember 2014 / 15:19 WIB
ILUSTRASI. OJK mencabut izin usaha PT Asuransi Jiwa Kresna atau Kresna Life.


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Mata uang Garuda dalam posisi tertekan ke level Rp 12.300 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini bisa berdampak pada Utang Luar Negeri (ULN) korporasi.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan ULN korporasi alias swasta dalam tren yang meningkat. Dengan adanya rupiah yang mengalami depresiasi akan menjadi risiko tersendiri bagi korporasi.

Pemantauan BI, pengaruh rupiah terhadap utang swasta masih terukur. "Namun secara umum kita ingatkan lagi ke pihak swasta yang punya ULN untuk dapat mengelola uang dengan baik," ujar Agus, Kamis (10/12).

Kalau korporasi tidak bisa mengatur utangnya dengan baik maka keuangan dunia dan pelemahan rupiah bisa berdampak ke kinerja perusahaan. Adapun, posisi ULN pada akhir September 2014 sebesar US$ 292,3 miliar.

Posisi ini meningkat US$ 6,1 miliar atau 2,1% dibandingkan posisi akhir triwulan II (Juni) yang sebesar US$ 286,2 miliar. Peningkatan posisi ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kepemilikan posisi utang swasta.

Utang swasta pada akhir September tercatat US$ 159,3 miliar. Nilai ini naik 3,1% dibanding posisi akhir Juni yang sebesar US$ 154,4 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×