kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Beras Tetap Sumbang Inflasi, Meski Pemerintah Telah Salurkan Bantuan Pangan


Kamis, 01 Februari 2024 / 18:44 WIB
Beras Tetap Sumbang Inflasi, Meski Pemerintah Telah Salurkan Bantuan Pangan
ILUSTRASI. Pekerja mendistribusikan beras Bulog di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Kamis (11/1/2024). Beras Tetap Sumbang Inflasi, Meski Pemerintah Telah Salurkan Bantuan Pangan.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren inflasi beras masih berlanjut pada awal tahun 2024. Bahkan, data Badan  Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sebagian besar provinsi di Indonesia mencatat inflasi beras. 

Data BPS menunjukkan, inflasi beras pada bulan Januari 2024 sebesar 0,64% mom, dengan andil pada inflasi sebesar 0,03%. 

Padahal, pemerintah melanjutkan program bantuan pangan pada tahun 2024. Jumlah penerimanya pun meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2023. 

Baca Juga: Tren Inflasi Beras Masih Bertahan di Awal Tahun 2024

Berdasarkan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), penerima bantuan pada tahun 2024 tercatat sebanyak 22 juta PBP, yang masing-masing mendapatkan beras sebanyak 10 kg per bulan. 

Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebanyak 21,3 juta PBP.

Saat ditanya awak media mengenai korelasi pemberian bantuan pangan kepada inflasi beras yang bertahan, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti pun menjelaskan. 

“Harga beras tinggi, karena memang dipengaruhi oleh suplai yang relatif lebih rendah, dari permintaan yang tinggi,” ujarnya, Kamis (1/2) di Jakarta. 

Baca Juga: Harga Emas di Pegadaian, Siang Ini Kamis 1 Februari 2024, Cek Daftarnya di Sini

Amalia menegaskan, salah satu yang mendorong tingginya harga beras adalah negara-negara eksportir beras yang menahan ekspor. Sehingga, suplai di dunia menipis dan harga beras di pasar global pun naik. 

Sedangkan dari dalam negeri, Amalia bilang panen beras relatif lebih rendah, karena faktor cuaca atau El Niño yang bekepanjangan. 

Bahkan, dari kacamata BPS, diyakini bahwa produksi beras masih relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan konsumsi, atau masih akan terjadi defisit beras pada Januari 2024 dan Februari 2024. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×