Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2026.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, proyeksi tersebut menjadi bagian dari gambaran perekonomian Indonesia ke depan. Selain nilai tukar, BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,2%-6%.
"Ekonomi growth kita 5,2%-6% dengan rupiah di Rp 17.300-Rp 17.800 per dolar AS," kata Destry saat menghadiri Raker di Komisi VI DPD RI, Senin (14/9/2026).
Baca Juga: The Fed Naikkan Suku Bunga, Bagaimana Nasib BI-Rate Hingga Akhir Tahun?
Destry menyebut, pergerakan rupiah sebelumnya bahkan telah berada di sekitar level Rp 17.500 per dolar AS dan sempat mendekati Rp 17.400 per dolar AS.
Namun, kondisi global yang kembali bergejolak memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ia mengatakan, eskalasi perang Iran-Amerika yang semakin meningkat turut mempengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir.
"Gejolak di global memburuk karena perang Iran-Amerika terus makin meningkat, kita agak tertekan dua hari terakhir ini," ujar Destry.
Baca Juga: Suahasil Bungkam, Setoran Rp120 Triliun Danantara Masih Menggantung
Meski demikian, Destry mengatakan rupiah masih mampu bertahan di level Rp 17.600-an per dolar AS.
"Alhamdulillah masih berada di level Rp 17.600-an," katanya.
Sementara itu, dari sisi inflasi, BI masih mempertahankan proyeksi inflasi pada sasaran 2,5% plus minus 1%. Dengan demikian, inflasi diperkirakan berada dalam rentang 1,5%-3,5%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














