Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah masih menghadapi tantangan dalam memperluas pemerataan akses telekomunikasi, terutama di wilayah yang belum menarik bagi operator komersial.
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat kebutuhan anggaran sekitar Rp7,8 triliun per tahun untuk mempertahankan layanan infrastruktur telekomunikasi di wilayah tersebut.
Direktur Utama BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar mengatakan, kebutuhan sekitar Rp7,8 triliun merupakan baseline anggaran tahunan BAKTI. Meski demikian, kebutuhan tersebut terus mengalami penurunan seiring dengan efisiensi, evaluasi investasi, serta strategi exit dari sejumlah wilayah yang sudah mampu dilayani operator secara komersial.
"Total yang dibutuhkan BAKTI sekarang itu minimal sekitar Rp7,8 triliun per tahun. Itu baseline-nya per tahun. Tapi ini juga sudah sangat menurun," ujar Fadhilah dalam BAKTI Media Connect 2026, Rabu (12/8/2026).
Fadhilah menjelaskan, pendanaan BAKTI terutama berasal dari kontribusi Universal Service Obligation (USO) yang dipungut dari penyelenggara jasa telekomunikasi. Kontribusi tersebut ditetapkan sebesar 1,25% dari pendapatan kotor penyelenggara jasa telekomunikasi.
Baca Juga: El Nino Mengancam Pangan, Pemerintah Siapkan Insentif dan Anggaran
Selain dana USO, BAKTI juga memperoleh pendapatan dari kegiatan usaha dan kerja sama pemanfaatan aset. Sumber pendapatan tersebut antara lain berasal dari kerja sama Palapa Ring serta pemanfaatan berbagai infrastruktur yang dimiliki BAKTI.
Menurut Fadhilah, pengelolaan anggaran BAKTI terus dievaluasi untuk memastikan investasi pemerintah memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan efisiensi serta negosiasi ulang dengan penyedia layanan.
"Selalu turun. Ada yang exit, ada yang efisiensi anggaran. Jadi kita negosiasi ulang. Misalnya karena sudah balik modal, penyediaannya berarti harganya di tahun kedua atau ketiga harus turun," katanya.
BAKTI Tidak Bangun BTS Baru pada 2026
Dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi, BAKTI tidak menargetkan pembangunan base transceiver station (BTS) baru sepanjang 2026. Fokus BAKTI tahun ini diarahkan untuk mempertahankan operasional infrastruktur yang sudah tersedia serta melakukan relokasi apabila dibutuhkan.
Fadhilah menyebut saat ini terdapat 6.747 BTS BAKTI yang menjadi infrastruktur eksisting. Sepanjang 2026, BAKTI masih mengalokasikan belanja operasional atau operational expenditure (OPEX) untuk menjaga layanan di lokasi-lokasi tersebut.
"Kalau 2026, saat ini posisi BAKTI tetap untuk melakukan OPEX pada lokasi-lokasi existing. Belum ada rencana untuk pembangunan baru, hanya untuk relokasi saja," jelasnya.
Keputusan tersebut, lanjut Fadhilah, mempertimbangkan keterbatasan sumber daya, kondisi keuangan negara, serta waktu yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Kalau kita paksa dengan saat ini, sudah bulan Agustus, Oktober, nanti kapasitasnya tidak terkejar, apalagi suasana di Papua," ujarnya.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Diprediksi Naik Jadi 7,35% pada Akhir 2026
Sekitar 2.000 Desa Belum Terjangkau 4G
Di tengah pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan, BAKTI masih mencatat adanya sekitar 2.000 desa dan kelurahan di Indonesia yang belum terjangkau jaringan 4G.
Dari total sekitar 83.000 desa dan kelurahan di Indonesia, lebih dari 98% saat ini telah tercakup jaringan telekomunikasi. Pemerintah selanjutnya akan mendorong pembangunan jaringan di wilayah yang masih belum terjangkau melalui kolaborasi dengan operator seluler.
"Masih ada sekitar 2.000 desa yang belum ter-cover. Yang pertama yang akan dilakukan pemerintah itu membangunnya melalui penyertaan pada saat operator seluler kemarin menang tender," katanya.
Papua menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi desa yang belum mendapatkan akses jaringan 4G. Fadhilah memperkirakan sekitar 700-an desa dari total sekitar 2.000 desa tersebut berada di Papua.
Namun, pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Papua menghadapi tantangan keamanan. BAKTI sebelumnya telah membangun sejumlah infrastruktur di wilayah tersebut, tetapi pembangunan maupun pengoperasiannya masih menghadapi kendala kondisi keamanan.
Fadhilah mengatakan terdapat beberapa puluh lokasi yang perlu direlokasi ke wilayah lain dalam kabupaten yang sama. Untuk melanjutkan pembangunan kembali di Papua, BAKTI masih berkoordinasi dengan pihak pertahanan dan keamanan.
"Kami punya cita-cita Papua itu ter-cover semua. Kami sedang koordinasi dengan pihak pertahanan keamanan bagaimana kita melanjutkan, terutama yang sudah ada infrastrukturnya," katanya.
Baca Juga: Pertumbuhan Penjualan Ritel Juni 2026 Di Kota Ini Kalahkan Jakarta
BAKTI Dorong Strategi Exit
Selain menjaga infrastruktur di wilayah yang belum terlayani, BAKTI juga menerapkan strategi exit dari sejumlah daerah yang sudah memiliki layanan telekomunikasi komersial.
BAKTI dapat keluar dari suatu wilayah apabila operator seluler sudah mampu mengambil alih layanan. Strategi tersebut juga dilakukan apabila tingkat trafik layanan di suatu lokasi terlalu rendah sehingga penggunaan infrastruktur yang ada dinilai kurang efisien.
Fadhilah mengatakan, jumlah BTS BAKTI sebelumnya mencapai sekitar 7.000 titik. Namun, jumlah tersebut kini menjadi 6.747 titik karena sebagian lokasi telah menjalani proses exit.
"Kalau operator seluler sudah bisa mengambil alih, artinya pemerintah tidak harus ada di situ lagi untuk kita keluar," ujarnya.
Selain strategi exit, BAKTI juga dapat mengubah teknologi yang digunakan di lokasi dengan tingkat trafik rendah agar lebih efisien. Salah satu opsi yang dapat diterapkan adalah mengalihkan layanan dari BTS menjadi akses hotspot.
Dengan pendekatan tersebut, sumber daya yang sebelumnya digunakan untuk lokasi dengan tingkat pemanfaatan rendah dapat dialihkan ke wilayah lain yang membutuhkan kapasitas jaringan lebih besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
